Ekonom Ingatkan Pemerintah Tahan Kenaikan Harga BBM Subsidi Jika Minyak Dunia Belum Sentuh USD 100 per Barel

komunitas | 06 Maret 2026 15:24

Ekonom Ingatkan Pemerintah Tahan Kenaikan Harga BBM Subsidi Jika Minyak Dunia Belum Sentuh USD 100 per Barel
ILUSTRASI. Ekonom ingatkan pemerintah jangan naikkan harga BBM subsidi sebelum minyak dunia melampaui USD 100 per barel. (dok Jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah diingatkan agar tidak terburu-buru menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah dinamika harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga Pertalite dan solar dinilai berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap kondisi ekonomi nasional apabila dilakukan sebelum waktunya.

 

 

Ekonom energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menilai pemerintah sebaiknya menahan kebijakan penyesuaian harga BBM subsidi hingga harga minyak mentah dunia benar-benar menembus level USD 100 per barel.

 

 

“Untuk Pertalite dan solar yang merupakan BBM subsidi dan ditetapkan pemerintah, kemungkinan tidak langsung naik juga. Karena terlalu riskan bagi pemerintah jika menaikkan harga Pertalite yang sebagian besar konsumsinya berasal dari masyarakat,” ujar Fahmy. Demikian dikutip dari Jawapos.com, jumat, (6/3/2026). 

 

 

Menurutnya, Pertalite dan solar merupakan BBM yang mendapat subsidi dan harga jualnya ditetapkan pemerintah. Dengan tingkat konsumsi yang tinggi di masyarakat, kenaikan harga kedua jenis BBM tersebut dapat langsung memicu dampak ekonomi yang luas.

 

 

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM subsidi berpotensi mendorong inflasi lebih tinggi. Selain itu, kebijakan tersebut juga dapat menekan daya beli masyarakat yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.

 

 

“Kalau harga minyak dunia belum mencapai USD 100 per barel, sebaiknya pemerintah jangan menaikkan harga Pertalite dan solar,” tegasnya.

 

 

Karena itu, pemerintah disarankan tetap mempertahankan harga BBM subsidi selama harga minyak mentah dunia belum mencapai ambang USD 100 per barel.

 

 

Namun, kondisi akan berbeda jika harga minyak dunia telah melampaui batas tersebut. Pada situasi tersebut, pemerintah dinilai menghadapi tekanan fiskal yang lebih berat apabila tetap mempertahankan harga BBM subsidi.

 

 

“Kalau sudah mencapai USD 100 per barel ke atas, tidak ada pilihan bagi pemerintah karena beban APBN akan semakin berat jika tidak dinaikkan,” tambahnya.

 

 

Fahmy memperkirakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mampu menanggung subsidi energi selama harga minyak dunia belum menembus angka tersebut. Namun jika harga terus meningkat hingga melewati USD 100 per barel, tekanan terhadap anggaran negara akan semakin besar.

 

“Perkiraan saya APBN masih mampu menanggung beban kalau tidak menaikkan harga Pertalite tadi. Tapi kalau sudah di atas USD 100 per barel, itu sudah terlalu berat. Bisa kolaps juga APBN-nya,” pungkasnya.

 

Sementara itu, mengutip Reuters, harga minyak mentah dunia sempat mengalami kenaikan signifikan. Pada Kamis (5/3), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup naik USD 6,35 atau 8,51 persen menjadi USD 81,01 per barel, level tertinggi sejak Juli 2024.

 

 

Minyak mentah Brent juga menguat USD 4,01 atau 4,93 persen menjadi USD 85,41 per barel, menandai kenaikan selama lima sesi berturut-turut. Namun pada perdagangan Jumat (6/3), harga Brent berjangka turun 95 sen atau 1,1 persen menjadi USD 84,46 per barel, sementara WTI melemah USD 1,08 atau 1,3 persen menjadi USD 79,93 per barel.

 

 

Meski demikian, secara mingguan harga Brent telah melonjak sekitar 16,4 persen dan WTI naik 19,2 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang paling tajam sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.(Frcn)