JAKARTA, PustakaJC.co — Rencana impor 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih memicu perdebatan di kalangan pelaku industri otomotif dan pengamat ekonomi. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memberikan efisiensi anggaran, namun di sisi lain dikhawatirkan dapat menekan perkembangan industri otomotif dalam negeri.
Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai keputusan impor kendaraan niaga dari India dapat dipahami sebagai langkah korporasi yang berorientasi pada efisiensi biaya jangka pendek. Menurutnya, biaya produksi kendaraan di India relatif lebih rendah dibanding Indonesia, sehingga harga kendaraan bisa ditekan cukup signifikan. Demikian dilansir dari Jawapos.com, minggu, (15/3/2026).
Ia menjelaskan, biaya tenaga kerja di India yang lebih murah serta adanya skema perdagangan seperti ASEAN-India Free Trade Area dan Comprehensive Economic Partnership Agreement membuat tarif bea masuk kendaraan impor hanya berkisar 0–10 persen.