SURABAYA, PustakaJC.co – Talenta pesepak bola putri muda di Surabaya terus menunjukkan perkembangan positif. Hal itu terlihat dalam gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 Surabaya 2025-2026 yang mempertemukan pemain kelompok umur (KU) 10 dan KU 12 di Lapangan Jala Krida Mandala, Minggu, (17/5/2026).
Turnamen berlangsung sengit dan penuh antusiasme. Dua sekolah berhasil keluar sebagai juara baru setelah pertandingan dramatis yang harus ditentukan lewat adu penalti. Dilansir dari jawapos.com, Senin, (18/5/2026).
Pada kategori KU 12, SDN Pacarkeling V/186 B sukses meraih gelar juara usai menaklukkan SDN Manukan Kulon dengan skor 6-5 melalui adu penalti. Sebelumnya kedua tim bermain imbang 1-1 pada waktu normal.
SDN Manukan Kulon sempat unggul cepat lewat gol kapten tim Emily Zitara pada menit kelima. Namun SDN Pacarkeling V/186 B mampu bangkit melalui gol Locita Waranggaini Olah Nismara di babak kedua.
Ketegangan berlanjut hingga babak adu penalti. Kedua tim kembali sama kuat dengan skor 5-5 sebelum penentuan dilakukan lewat coin toss sesuai regulasi pertandingan. SDN Pacarkeling V/186 B akhirnya memastikan kemenangan melalui eksekusi Darleine Maryam Khairunisa.
Penampilan impresif juga ditunjukkan pemain SDN Pacarkeling V/186 B, Locita Waranggaini Olah Nismara, yang terpilih sebagai Best Player kategori KU 12 berkat performa konsistennya sepanjang turnamen.
Sementara itu, gelar juara kategori KU 10 berhasil diraih SDN Manukan Kulon setelah mengalahkan SDN Dr Sutomo V/327, juga lewat drama adu penalti.
Asprov PSSI Jawa Timur menilai kompetisi tersebut menjadi langkah penting dalam memperkuat pembinaan sepak bola putri usia dini di Jawa Timur.
Perwakilan Asprov PSSI Jawa Timur, Arief Anton Sujarwo, mengatakan MLSC menjadi ruang positif bagi atlet-atlet putri untuk berkembang melalui kompetisi yang rutin dan berkelanjutan.
“Dari sisi kompetisinya ini suatu langkah besar, karena atlet-atlet putri sudah memiliki jalur pembinaan yang nantinya berdampak baik terhadap sepak bola Jawa Timur, khususnya sepak bola wanita,” ujarnya usai penutupan turnamen.
Menurut Arief, perkembangan sepak bola putri mulai terlihat dari meningkatnya jumlah peserta di kelompok umur 10 tahun dibanding tahun sebelumnya. Ia berharap peningkatan kualitas pelatih juga terus dilakukan agar pembinaan sepak bola putri semakin merata.
“Kalau pelatihnya bagus dan merata, tentunya sekolah-sekolah sepak bola khusus wanita itu akan semakin berkembang,” katanya.
Sementara itu, Head Coach MLSC Jackson F Tiago mengungkapkan pihaknya akan kembali menyeleksi pemain terbaik hasil seri pertama dan kedua untuk memperkuat tim All Star Surabaya yang dijadwalkan tampil di Kudus pada 21 Juni mendatang.
“Besok ada beberapa anak yang sudah lolos di seri pertama dan seri kedua. Nanti kami latihan bersama lagi untuk melihat 16 pemain terbaik yang akan mewakili All Star Surabaya di Kudus,” ujarnya.
Jackson menilai karakter pemain putri Surabaya menjadi salah satu hal paling menonjol selama turnamen berlangsung.
“Kita punya Surabaya itu wani. Benturan atau apa, mereka tetap bertanding. Tidak ada yang cengeng,” ucapnya.
Ia menegaskan MLSC bukan hanya soal mencari tim juara, melainkan membangun ekosistem sepak bola putri dan menemukan talenta potensial yang bisa berkembang hingga level nasional.
“Mau juara atau tidak juara itu tidak penting buat kami. Kami mencari individu-individu yang menonjol dan punya potensi untuk jadi bagian dari tim nasional Indonesia suatu hari nanti,” tandasnya. (ivan)