Youth Forum di Surabaya Serukan Gerakan Pemuda Lindungi Anak dari Adiksi Nikotin

komunitas | 21 Mei 2026 22:24

Youth Forum di Surabaya Serukan Gerakan Pemuda Lindungi Anak dari Adiksi Nikotin
Youth Forum ke-9 di Surabaya mengajak pemuda aktif melawan adiksi nikotin dan pengaruh industri rokok terhadap anak muda. (dok Jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Ancaman adiksi nikotin pada anak dan remaja menjadi sorotan dalam Youth Forum ke-9 yang digelar di Surabaya, Rabu (20/5/2026). Kegiatan ini mempertemukan komunitas pemuda, akademisi, pemerintah, hingga aparat penegak hukum untuk memperkuat langkah bersama dalam melindungi generasi muda dari paparan rokok dan vape. Kamis, (21/5/2026).

“Surabaya ini sudah masuk kategori Kota Layak Anak, namun di setiap sudut jalan masih terlihat marak sekali iklan rokok yang secara sistematis menyasar anak dan remaja,” tegas Manik. Demikian dikutip dari jawapos.com, Kamis (21/5/2026).

Forum tersebut diselenggarakan oleh Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC), Research Group for Tobacco Control Universitas Airlangga, dan Jaringan Koalisi Save Our Surroundings (SOS) menjelang peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 31 Mei 2026.

Ketua Umum IYCTC, Manik Marganamahendra, mengungkapkan bahwa sekitar enam juta anak di Indonesia saat ini telah terjebak dalam adiksi nikotin. Kondisi tersebut dinilai memprihatinkan karena strategi pemasaran industri rokok semakin masif dan menyasar kalangan remaja.

“Industri rokok sering kali secara sengaja merancang strategi pemasaran agar dekat dengan kebutuhan anak muda, bahkan memanfaatkan taktik seperti pemberian beasiswa untuk membangun citra positif, padahal itu merupakan strategi mengunci pasar jangka panjang,” ujarnya.

Menurut Manik, Surabaya yang telah menyandang predikat Kota Layak Anak masih menghadapi tantangan serius. Iklan rokok luar ruang masih mudah ditemukan di sejumlah titik strategis dan dinilai berpotensi memengaruhi anak-anak serta remaja.

Manik menegaskan implementasi PP Nomor 28 Tahun 2024 harus dikawal bersama. Regulasi tersebut melarang iklan, promosi, dan sponsorship rokok dalam radius 500 meter dari sekolah.

Ia juga mengajak generasi muda untuk aktif mendokumentasikan dan melaporkan setiap pelanggaran yang ditemukan di lingkungan sekitar. Pengawasan partisipatif dinilai menjadi salah satu langkah efektif untuk menekan normalisasi rokok di ruang publik.

Dukungan terhadap upaya tersebut juga datang dari Wakil Wali Kota Surabaya, Armudji. Ia menegaskan bahwa status Kota Layak Anak harus diwujudkan melalui kebijakan nyata yang melindungi anak dari paparan asap rokok.

“Surabaya baru saja berhasil menurunkan angka stunting secara drastis dari 28,9 persen menjadi 1,6 persen. Namun, penurunan ini tidak akan berdampak maksimal jika anak-anak tumbuh di lingkungan yang tercemar asap rokok,” ujar Armudji.

Menurut Armudji, keberhasilan menekan angka stunting perlu diiringi dengan upaya menciptakan lingkungan sehat bagi anak-anak. Karena itu, Pemkot Surabaya terus menyelaraskan regulasi Kawasan Tanpa Rokok dengan aturan nasional terbaru.

Sementara itu, Kementerian Pemuda dan Olahraga menilai kecanduan rokok menjadi ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia. Mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, Asisten Deputi Karakter Pemuda, Esa Sukmawijaya, menyebut adiksi nikotin dapat menurunkan produktivitas generasi muda dan menghambat peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP).

“Kecanduan rokok adalah hambatan nyata dalam meningkatkan kualitas SDM kita. Akan semakin banyak anak muda yang sakit dan tidak produktif,” tegas Esa.

Ia menambahkan, pemerintah perlu mengambil langkah tegas untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok dan vape.

“Kalau ingin melihat IPP meningkat, kita harus berani mengambil langkah tegas seperti beberapa negara yang membatasi penggunaan vape demi menyelamatkan masa depan bangsa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BNN Kota Surabaya, Heru Prasetyo, mengingatkan bahwa vape kini juga mulai dimanfaatkan sebagai media penyalahgunaan narkotika sintetis. Fenomena tersebut dinilai menjadi ancaman baru yang perlu diwaspadai bersama.

Dari sisi kesehatan, Faridha dari Dinas Kesehatan Jawa Timur menekankan bahwa kecanduan nikotin sejak usia dini dapat mempercepat munculnya penyakit degeneratif dan menimbulkan beban ekonomi besar bagi keluarga.

Youth Forum ke-9 ditutup dengan ajakan kepada generasi muda untuk membangun budaya hidup sehat serta berani menolak normalisasi rokok dan vape demi masa depan yang lebih sehat. (frchn)