Ratusan Warga Surabaya Serbu Komunitas Bermain, Jadi Pelepas Penat di Tengah Era Digital

komunitas | 16 Juni 2026 18:56

Ratusan Warga Surabaya Serbu Komunitas Bermain, Jadi Pelepas Penat di Tengah Era Digital
Dok surabaya bermain

SURABAYA, PustakaJC.co - Komunitas Bermain Surabaya kian diminati masyarakat. Kegiatan yang menghadirkan berbagai permainan tradisional itu berhasil menarik ratusan peserta dan menjadi ruang pelepas penat sekaligus ajang membangun relasi sosial di tengah dominasi gadget dan media sosial.

 

Public Relations Komunitas Bermain Surabaya, Yolanda, mengatakan komunitas tersebut tidak hanya menghadirkan aktivitas bermain, tetapi juga membuka ruang interaksi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.

 

"Tujuan kami bukan hanya bermain, tapi juga membuat orang punya ruang untuk berbincang, menjalin koneksi, dan bersenang-senang tanpa memegang gadget," kata Yolanda saat kegiatan berlangsung di Balai Kota Surabaya.

 

Kegiatan yang digelar setiap akhir pekan itu diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa, pekerja kantoran hingga keluarga yang membawa anak-anak.

 

Menurut Yolanda, Komunitas Bermain Surabaya baru dibentuk pada awal 2026. Gagasan tersebut muncul setelah para penggagas melihat antusiasme masyarakat terhadap komunitas serupa yang lebih dahulu berkembang di Jakarta.

 

Ia menjelaskan kegiatan perdana hanya diikuti sekitar 17 peserta. Namun, setelah dokumentasi kegiatan diunggah melalui TikTok dan Instagram, jumlah peserta terus meningkat secara signifikan hingga mencapai ratusan orang.

 

Tingginya minat masyarakat membuat panitia beberapa kali berpindah lokasi kegiatan. Dari yang semula digelar di Pos Bloc Surabaya, kegiatan kemudian dipindahkan ke ruang terbuka yang lebih luas untuk menampung jumlah peserta yang terus bertambah.

 

Dalam salah satu kegiatan, jumlah peserta bahkan disebut mencapai sekitar 700 orang.

 

Berbagai permainan tradisional menjadi daya tarik utama komunitas tersebut. Peserta diajak memainkan gobak sodor, bentengan, lompat tali hingga estafet hulahop yang kini mulai jarang dimainkan di lingkungan perkotaan.

 

Seluruh permainan dipandu panitia sehingga kegiatan tetap berjalan tertib meski diikuti peserta dalam jumlah besar.

 

Mayoritas peserta berasal dari kalangan Gen Z dan milenial yang ingin kembali merasakan suasana permainan masa kecil yang kini mulai tergeser oleh perkembangan teknologi digital.

 

"Pesertanya mulai anak usia tiga tahun sampai sekitar 40 tahun. Tapi memang yang paling banyak Gen Z dan milenial karena mereka ingin merasakan lagi permainan zaman kecil," ujarnya.

 

Selain menghadirkan nostalgia, komunitas tersebut juga dinilai mampu menjadi sarana pelepas stres bagi para pesertanya.

 

Yolanda mengungkapkan hasil formulir umpan balik yang dibagikan kepada peserta menunjukkan banyak peserta merasa terbantu mengurangi kejenuhan akibat tugas kuliah, pekerjaan maupun persoalan pribadi.

 

"Banyak yang bilang kegiatan ini menjadi stress release. Mereka bisa melupakan masalah pribadi, tugas kuliah, skripsi ataupun pekerjaan untuk sementara waktu," katanya.

 

Tidak hanya itu, banyak peserta yang datang seorang diri namun pulang dengan teman baru setelah mengikuti berbagai permainan kelompok yang diselenggarakan panitia.

 

Menurut Yolanda, cukup banyak peserta yang awalnya merasa introvert akhirnya lebih percaya diri untuk berinteraksi setelah bergabung dalam kegiatan komunitas tersebut.

 

"Banyak yang datang sendirian, tapi pulangnya sudah punya teman baru. Itu yang membuat kami senang," ujarnya.

 

Seluruh kegiatan Komunitas Bermain Surabaya dilaksanakan secara gratis dengan seluruh peralatan permainan disediakan panitia.

 

Keberadaan komunitas ini menjadi alternatif ruang interaksi sosial bagi masyarakat Surabaya sekaligus menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan di tengah kehidupan modern yang serba digital. (int)