Inflasi Juni 2026 Tetap Sesuai Sasaran, BI Ungkap Faktor Penopangnya

komunitas | 04 Juli 2026 16:24

Inflasi Juni 2026 Tetap Sesuai Sasaran, BI Ungkap Faktor Penopangnya
Ilustrasi aktivitas belanja masyarakat di pasar modern dengan tampilan berbagai kebutuhan pokok. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co - Laju inflasi Indonesia pada Juni 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Capaian tersebut dinilai menjadi bukti efektivitas bauran kebijakan moneter serta sinergi pengendalian inflasi yang dilakukan bersama pemerintah di tengah tekanan harga energi dan komoditas global.

 

Laju inflasi Indonesia pada Juni 2026 tercatat tetap terkendali sesuai target pemerintah dan Bank Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada dalam kisaran sasaran inflasi sebesar 2,5±1 persen. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Sabtu, (4/7/2026).

 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan capaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter yang diterapkan BI, didukung koordinasi erat dengan pemerintah pusat maupun daerah dalam menjaga stabilitas harga.

 

“Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah, baik melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Jumat, (3/7/2026).

 

 

 

BI optimistis inflasi akan tetap berada dalam kisaran sasaran hingga 2027 seiring berlanjutnya koordinasi kebijakan serta penguatan berbagai program pengendalian inflasi nasional.

 

Pada komponen inflasi inti, tekanan harga masih relatif terkendali. Inflasi inti Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen (mtm), sedikit meningkat dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,22 persen. Sementara secara tahunan, inflasi inti naik menjadi 2,76 persen dari sebelumnya 2,59 persen.

 

Menurut BI, kenaikan tersebut dipengaruhi masih tingginya harga sejumlah komoditas global. Meski demikian, ekspektasi inflasi domestik tetap terjaga sehingga tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap stabilitas harga.

 

Sementara itu, kelompok volatile food atau harga pangan bergejolak mencatat inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,22 persen. Komoditas yang menyumbang kenaikan harga antara lain bawang merah, bawang putih, dan beras akibat menurunnya produksi di sejumlah daerah sentra, meningkatnya biaya distribusi, serta berakhirnya musim panen raya.

 

Meski demikian, secara tahunan inflasi kelompok volatile food justru melandai menjadi 5,58 persen, lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 6,24 persen. BI menilai kondisi tersebut menunjukkan efektivitas pengendalian inflasi pangan melalui sinergi TPIP, TPID, serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

 

 

 

 

Di sisi lain, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah mencatat inflasi sebesar 1,41 persen (mtm), meningkat dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,52 persen. Peningkatan ini terutama dipicu kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara seiring penyesuaian harga avtur akibat tingginya harga energi global.

 

Secara tahunan, inflasi kelompok administered prices mencapai 3,42 persen, lebih tinggi dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,07 persen.

 

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan koordinasi bersama pemerintah dalam mengendalikan inflasi. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global. (ivan)