Kondisi tersebut juga mendorong sebagian penumpang memilih turun di stasiun terdekat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menghindari kemacetan yang lebih parah di sekitar kawasan pelabuhan.
Terkait persoalan tersebut, Organda Jatim menilai akar masalah bukan terletak pada jumlah kapal penyeberangan yang tersedia. Menurut Firmansyah, kapasitas dermaga yang terbatas menjadi penyebab utama terjadinya antrean panjang di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah kapal yang tersedia sebenarnya mencukupi. Namun, keterbatasan fasilitas sandar membuat sebagian kapal tidak dapat beroperasi secara optimal sehingga memicu penumpukan kendaraan di pelabuhan.
“Kapalnya ada 24, yang tersedia lebih dari 50. Berarti ada separuh yang tidak jalan. Artinya bukan masalah kapal, tapi dermaganya. Pemerintah yang harus bisa bekerja di sini,” tegasnya.
Organda berharap pemerintah dapat mempercepat peningkatan kapasitas infrastruktur pelabuhan guna mengurangi antrean kendaraan dan memperlancar arus penyeberangan Jawa-Bali. Dengan demikian, operasional angkutan darat dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada jalur tersebut dapat kembali berjalan normal. (ivan)