BANYUWANGI, PustakaJC.co – Kemacetan yang kerap terjadi di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk berdampak besar terhadap sektor transportasi darat. Selain mengganggu jadwal perjalanan, kondisi tersebut juga menyebabkan penurunan pendapatan perusahaan otobus (PO) yang melayani rute menuju Bali.
Ketua DPD Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Jawa Timur, Firmansyah Mustafa, mengatakan antrean panjang yang sebelumnya identik dengan masa libur panjang kini terjadi lebih sering dan mengacaukan jadwal keberangkatan maupun kedatangan bus. Dilansir dari kompas.com, Senin, (13/7/2026).
Menurutnya, keterlambatan perjalanan berdampak langsung pada kenyamanan penumpang. Jadwal yang telah disusun operator bus menjadi tidak menentu karena kendaraan harus menghabiskan waktu berjam-jam di antrean menuju pelabuhan.
“Banyak sekali akhirnya jadwal mereka jadi kacau. Yang harusnya pagi masuk di Bali untuk sarapan pagi, akhirnya berubah menjadi sarapan siang. Bahkan ada yang sampai jadi makan malam,” ujar Firmansyah usai mengikuti rapat koordinasi di Kantor ASDP Ketapang, Minggu, (12/7/2026).
Ia menjelaskan, ketidakpastian waktu tempuh membuat sebagian calon penumpang beralih menggunakan moda transportasi lain yang dianggap lebih tepat waktu, seperti kereta api. Perubahan pilihan transportasi tersebut berdampak signifikan terhadap tingkat keterisian bus.
Firmansyah mengungkapkan penurunan pendapatan pelaku usaha angkutan bus sudah dirasakan sejak masa angkutan Lebaran 2026. Menurutnya, omzet perusahaan bus turun hingga sekitar 40 persen akibat berkurangnya jumlah penumpang.
“Sangat terdampak. Karena mereka sudah kena macet jauh di situ. Akhirnya banyak yang naik kereta api. Omzet jelas turun, hampir 40 persen,” katanya.
Ia mencontohkan, jika sebelumnya satu perusahaan otobus dapat memberangkatkan empat hingga lima armada bus menuju Bali setiap hari, kini hanya mampu mengoperasikan satu armada dengan tingkat keterisian penuh.
Kondisi tersebut juga mendorong sebagian penumpang memilih turun di stasiun terdekat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki untuk menghindari kemacetan yang lebih parah di sekitar kawasan pelabuhan.
Terkait persoalan tersebut, Organda Jatim menilai akar masalah bukan terletak pada jumlah kapal penyeberangan yang tersedia. Menurut Firmansyah, kapasitas dermaga yang terbatas menjadi penyebab utama terjadinya antrean panjang di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah kapal yang tersedia sebenarnya mencukupi. Namun, keterbatasan fasilitas sandar membuat sebagian kapal tidak dapat beroperasi secara optimal sehingga memicu penumpukan kendaraan di pelabuhan.
“Kapalnya ada 24, yang tersedia lebih dari 50. Berarti ada separuh yang tidak jalan. Artinya bukan masalah kapal, tapi dermaganya. Pemerintah yang harus bisa bekerja di sini,” tegasnya.
Organda berharap pemerintah dapat mempercepat peningkatan kapasitas infrastruktur pelabuhan guna mengurangi antrean kendaraan dan memperlancar arus penyeberangan Jawa-Bali. Dengan demikian, operasional angkutan darat dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada jalur tersebut dapat kembali berjalan normal. (ivan)