SURABAYA, PustakaJC.co - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mendorong Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur untuk tidak sekadar memproduksi pengetahuan, tetapi juga menghadirkan gagasan dan kontribusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Emil saat menghadiri Pengukuhan Pengurus ICMI Orwil Jawa Timur periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu, (19/9/2026).
Di tengah derasnya arus informasi digital, Emil menilai peran kalangan intelektual sangat krusial untuk menjembatani sains dengan pemahaman publik. Informasi di media sosial yang sering kali belum teruji secara ilmiah dapat menyebar dalam hitungan menit.
"Bagaimana mengemas intelektual ke dalam konteks publik, itu yang sangat penting," ujar Emil, dikutip dari suarasurabaya.net, Minggu, (20/9/2026).
"Cendekiawan memiliki posisi penting untuk memberikan konteks, menjelaskan hubungan antarfenomena, sekaligus meluruskan pemahaman masyarakat berdasarkan kajian ilmiah." lanjutnya.
Lebih lanjut, Emil menggambarkan Jawa Timur sebagai "laboratorium pembangunan" dengan lebih dari 40 juta penduduk yang ditopang sektor industri, pertanian, perikanan, hingga sumber daya alam. Keberagaman ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu antara akademisi, profesional, industri, dan pemerintah.
"Jabatan paling utama seorang cendekiawan sebenarnya adalah menjadi pengabdi. Yang penting bukan besarnya organisasi, tetapi impact-nya," tegas Emil.
Empat Fokus Penggerak ICMI Jatim
Menanggapi arahan tersebut, Ketua ICMI Orwil Jawa Timur periode 2026–2031, Pitono Nugroho, menyatakan komitmennya untuk menjadikan ICMI sebagai bagian dari ekosistem kolaborasi pembangunan daerah. Pitono menetapkan empat fokus utama penggerak organisasi selama lima tahun ke depan: pengawalan kebijakan, inovasi, kolaborasi, dan penciptaan dampak.
"Jangan jadi pengurus, tetapi jadilah penggerak. Kita ingin dikenal karena dampak yang dilakukan," kata Pitono.
Ia juga memperkenalkan konsep Modal Keberlanjutan guna memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga menjaga aset peradaban untuk generasi mendatang.
Acara pengukuhan ini turut dihadiri Ketua Umum ICMI yang juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria. Dalam arahannya, Prof.
Arif menekankan pentingnya penerapan nilai Islam wasathiyah (moderat)—seperti tawazun(keseimbangan) dan tasamuh (toleransi)—dalam menjawab tantangan global terkait kedaulatan pangan, energi, air, serta keadilan ekologis. (ivan)