SURABAYA, PustakaJC.co – Kabupaten Gresik kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat hilirisasi industri perikanan nasional. Satu kontainer rajungan olahan dengan tujuan Amerika Serikat resmi diberangkatkan dari Kawasan Industri Gresik (KIG), dengan nilai ekspor mencapai sekitar Rp15 miliar per kontainer. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan sekaligus memperkuat perekonomian nasional.
Pelepasan ekspor dilakukan oleh Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi bersama Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani. Rajungan yang diekspor berasal dari berbagai kawasan transmigrasi di Sorong, Papua, Maluku, Maluku Utara, Pasangkayu (Sulawesi Barat), serta wilayah pesisir Gresik dan Lamongan sebelum diolah di Gresik dan dipasarkan ke Amerika Serikat.
Wakil Menteri Transmigrasi menyebut rajungan kini menjadi salah satu komoditas unggulan kawasan transmigrasi yang mampu bersaing di pasar internasional. Saat ini ekspor dilakukan secara rutin dua kali setiap bulan dengan kapasitas sekitar 16 ton per kontainer dan nilai ekonomi mencapai Rp14 miliar hingga Rp15 miliar.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani berharap volume ekspor terus meningkat dari satu menjadi lima kontainer dalam setiap pengiriman. Menurutnya, posisi strategis Gresik sebagai kawasan industri memungkinkan daerah tersebut menjadi pusat pengolahan berbagai komoditas unggulan dari kawasan transmigrasi sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Selain rajungan, pemerintah juga membuka peluang hilirisasi komoditas lain seperti kakao, kopra, maupun hasil perkebunan dari kawasan transmigrasi agar diolah di Gresik sebelum diekspor. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok nasional sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Pemerintah Kabupaten Gresik juga menyatakan siap mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program pelatihan vokasi bersertifikat bagi tenaga kerja industri pengolahan hasil perikanan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
Keberhasilan ekspor rajungan turut didukung meningkatnya daya saing produk perikanan Indonesia di pasar Amerika Serikat. Sebelumnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan berhasil menghapus hambatan ekspor rajungan sehingga produk Indonesia kembali memperoleh akses pasar hingga 2029. Kondisi tersebut membuka peluang lebih besar bagi peningkatan ekspor komoditas perikanan nasional.
Pemerintah berharap kolaborasi antara kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan nelayan terus diperkuat agar hilirisasi perikanan tidak hanya meningkatkan devisa negara, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir dan kawasan transmigrasi di berbagai daerah.
(int)