Distribusi Pupuk Subsidi di Bawean Lancar, Produktivitas Petani Menguat Menuju Swasembada Pangan

gresik | 30 Desember 2025 06:47

Distribusi Pupuk Subsidi di Bawean Lancar, Produktivitas Petani Menguat Menuju Swasembada Pangan
Misnadi saat menyiapkan pupuk untuk lahan sawah miliknya di Desa Gelam, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co - Ketersediaan pupuk subsidi bagi petani di Pulau Bawean sepanjang 2025 dipastikan aman dan tercukupi. Dukungan pemerintah bersama PT Petrokimia Gresik di bawah naungan Pupuk Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat langkah menuju swasembada pangan.

 

Sepanjang tahun 2025, pemerintah mengalokasikan 705 ton pupuk subsidi untuk Kecamatan Tambak dan Sangkapura. Alokasi tersebut terdiri dari 423 ton pupuk Urea, 275 ton NPK Phonska, serta 7 ton pupuk organik Petrokganik. Dilansir dari gresiksatu.com, Selasa, (30/12/2025).

 

Petrokimia Gresik menyalurkan pupuk bersubsidi ke seluruh wilayah sesuai ketetapan pemerintah, termasuk ke Pulau Bawean. Ketersediaan pupuk ini dirasakan langsung manfaatnya oleh para petani.

 

 

 

Salah satunya Misnadi, petani asal Desa Gelam, Kecamatan Tambak. Ia menyebut akses pupuk subsidi kini semakin mudah dan selalu tersedia setiap musim tanam.

 

“Sekarang sudah masuk musim tanam ketiga di bulan Desember. Januari nanti mulai musim tanam pertama tahun 2026. Alhamdulillah pupuk selalu ada di kios resmi,” ujar Misnasdi, Senin, (29/12/2025).

 

Misnadi menjelaskan, pola pemupukan dilakukan berdasarkan hasil penyuluhan dari UPT Pertanian Wilayah Bawean. Pupuk organik diaplikasikan satu hari sebelum tanam dengan dosis sekitar 6–7 kilogram per petak.

 

 

 

Pada usia tanaman tujuh hari, petani memberi pupuk Phonska sebanyak 2 kilogram dan Urea 6 ons per petak. Pemupukan serupa diulang pada usia 15–21 hari. Selanjutnya, pada usia 30–35 hari, tanaman hanya diberi Urea sebanyak 1,5 kilogram per petak.

 

“Selanjutnya tinggal perawatan dan pengairan. Kalau sawah tadah hujan harus dijaga agar tidak kering. Kalau sawah lot dengan air stabil, relatif aman sampai panen usia 95–100 hari,” jelas Ketua Gapoktan Gelam tersebut.

 

Di Bawean, satu petak atau satu kolak memiliki luas sekitar 130–150 meter persegi. Dalam perhitungan petani setempat, 75 petak setara dengan satu hektare. Biaya produksi per kolak berkisar Rp250 ribu, mencakup pengolahan lahan, pembibitan, pupuk, hingga panen.

 

 

 

Dengan skema tersebut, hasil panen rata-rata mencapai 6 ton gabah basah per hektare. Sebagian besar hasil panen digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sementara sisanya dijual.

 

Sementara itu, Kepala UPT Pertanian Wilayah Bawean, Lailatul Mukaromah, memastikan distribusi pupuk subsidi dilakukan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) melalui lima kios resmi di Pulau Bawean.

 

“Penebusan pupuk dilakukan sesuai HET. Harga Urea Rp90 ribu per sak 50 kilogram dan Phonska Rp92 ribu. Jika ada tambahan biaya, itu merupakan ongkos kirim yang disepakati antara Gapoktan dan pemilik kios,” jelas Erma, sapaan akrabnya.

 

Ia menambahkan, penyaluran pupuk mengacu pada data Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dari kelompok tani dan gabungan kelompok tani di 30 desa di Kecamatan Tambak dan Sangkapura. Setiap desa memiliki kuota berbeda sesuai luas lahan dan jumlah petani.

 

 

Menurutnya, produktivitas pertanian di Pulau Bawean terus menunjukkan tren positif dan mendukung target swasembada pangan. Hal ini juga diperkuat dengan keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah pusat, yang telah memiliki beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bawean.

 

“Hasil panen petani tidak hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi juga bisa disuplai ke dapur MBG. Jadi tidak perlu mendatangkan beras dari luar Bawean,” ujarnya.

 

Data UPT Dinas Pertanian Wilayah Bawean mencatat, sepanjang 2025 Kecamatan Tambak dengan 13 desa menghasilkan total 11.843 ton gabah atau setara 7.106 ton beras. Dengan jumlah penduduk 30.555 jiwa dan kebutuhan beras 2.416 ton per tahun, wilayah ini mengalami surplus produksi.

 

Sementara itu, Kecamatan Sangkapura yang memiliki 17 desa mencatat produksi gabah 15.836 ton atau setara 9.502 ton beras. Dengan kebutuhan beras tahunan sebesar 4.243 ton dari total penduduk 53.663 jiwa, wilayah ini juga berada dalam kondisi surplus. (ivan)