Kembangkan Warisan Rasa, Surabaya Siapkan Roadmap Menuju Kota Gastronomi Dunia

surabaya | 05 Desember 2025 04:57

Kembangkan Warisan Rasa, Surabaya Siapkan Roadmap Menuju Kota Gastronomi Dunia
Kepala Bappeda Litbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota Surabaya semakin serius mengarahkan pembangunan ekonomi berbasis kreativitas sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang. Salah satu fokus utamanya yakni menjadikan sektor gastronomi atau kuliner sebagai lokomotif utama ekonomi kreatif (ekraf), dengan target meraih predikat UNESCO Creative City of Gastronomy.

 

Arah besar tersebut akan dipaparkan dalam forum nasional “Creative Dialogue: Surabaya dalam Kartografi Kreatif – Dari Lintas Dagangan ke Ruang Identitas” yang digelar di Universitas Ciputra Surabaya, Kamis, (4/12/2025). Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri kreatif, komunitas, investor, serta perwakilan internasional untuk membahas masa depan ekraf Surabaya. Dilansir dari jatimpos.co, Jumat, (5/11/2025).

 

Kepala Bappeda Litbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat, menyebut riset mendalam bersama Universitas Ciputra menjadi fondasi kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa gastronomi bukan hanya urusan kuliner, tetapi mencakup pengetahuan, sejarah, rantai nilai pangan, pariwisata, dan identitas budaya masyarakat.

 

 

 

“Gastronomi adalah jembatan antara warisan budaya dan masa depan ekonomi. Kuliner bukan sekadar makanan, tetapi cerita, teknik memasak, bahan lokal, tradisi, hingga gaya hidup. Inilah yang membuat gastronomi mampu menggerakkan banyak subsektor kreatif,” ujar Irvan, Rabu, (3/12/2025).

 

Menurutnya, sebuah kota yang menyandang status Creative City of Gastronomy tidak hanya dikenal karena makanannya, melainkan karena memiliki ekosistem kuliner yang hidup dan berkelanjutan. Kota tersebut harus menjaga warisan pangan lokal, memberdayakan UMKM, memastikan keberlanjutan bahan baku, meningkatkan kualitas SDM kuliner, serta memperkuat pemasaran global.

 

Di Surabaya, potensi kuliner seperti rawon, lontong balap, semanggi, rujak cingur, hingga beragam olahan berbasis ikan menjadi modal besar baik secara ekonomi maupun budaya. Keberagaman etnis di Surabaya juga melahirkan perpaduan rasa dan teknik memasak yang unik, memperkuat karakter gastronomi kota ini.

 

 

Pemkot Surabaya kini menata ruang publik menjadi Creative Spaces & Districts sebagai tempat berkumpul dan berkolaborasinya pelaku kreatif. Selain itu, pelatihan, inkubasi bisnis, digitalisasi data ekraf, serta penyelenggaraan event kreatif terus diperluas untuk memperkuat pasar dan kapasitas pelaku ekraf.

 

“Semua langkah ini memastikan Surabaya tidak hanya menjadi kota dengan banyak makanan enak, tetapi kota yang memahami, merawat, dan menghidupkan identitas rasa sebagai kekuatan ekonomi,” tegas Irvan.

 

Forum tersebut juga menghadirkan narasumber nasional dan internasional seperti Igak Satrya Wibawa, Dwita Larasati, dan Prof. Dennis Cheek. Kehadiran mereka menjadi momentum penting untuk memantapkan positioning Surabaya menuju panggung global sebagai kota gastronomi dunia. (ivan)