Warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik Masih Menyimpan Harapan di Tengah Kelelahan Sosial

surabaya | 29 Desember 2025 18:51

Warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik Masih Menyimpan Harapan di Tengah Kelelahan Sosial
Ilustrasi, Catatan Pemred. Grafis. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co - Di tengah berbagai persoalan perkotaan yang belum sepenuhnya terselesaikan, warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik masih menunjukkan satu sikap yang sama: bertahan untuk tetap percaya. Meski lelah, suara publik di tiga daerah tersebut belum sepenuhnya padam.

 

Hal itu tergambar dari berbagai respons warga yang masuk melalui question box Instagram @suarasurabayamedia selama periode 25–28 Desember 2025. Ribuan tanggapan yang dianalisis secara kualitatif menunjukkan pola serupa: warga masih mau berbicara, mengeluh, mengkritik, sekaligus berharap adanya perbaikan nyata dari pemerintah. Dilansir dari suarasurabaya.net, Senin, (29/12/2025).

 

Analisis dilakukan dengan pengelompokan isu dan emosi publik, dibantu teknologi kecerdasan buatan untuk membaca kecenderungan tema dan nada. Namun, penafsiran akhir tetap dilakukan secara editorial dengan mempertimbangkan konteks lokal dan kepekaan jurnalistik.

 

Sejumlah persoalan yang disuarakan sebenarnya bukan hal baru. Mulai dari kualitas lingkungan yang menurun, pelayanan publik yang dinilai lamban dan tidak konsisten, hingga tata kota yang dianggap belum adil. Warga juga menyoroti penegakan aturan yang kerap terasa tegas ke bawah, tetapi longgar ke atas.

 

 

Kondisi tersebut memunculkan kelelahan sosial. Bukan dalam bentuk kemarahan terbuka, melainkan perubahan nada komunikasi warga yang kini lebih singkat, dingin, dan berhati-hati. Mereka tidak berhenti berbicara, tetapi menunggu bukti nyata.

 

Di Surabaya, keluhan banyak berkisar pada ketidakteraturan kota yang dirasa stagnan. Di Sidoarjo, perhatian publik tertuju pada persoalan lingkungan hidup dan layanan dasar yang belum tuntas. Sementara di Gresik, kegamangan muncul dari posisi ganda sebagai kawasan industri sekaligus ruang hidup warga yang terdampak aktivitas ekonomi.

 

Meski demikian, harapan warga justru semakin sederhana. Mereka tidak lagi menuntut kebijakan besar atau figur pemimpin yang heroik. Yang diinginkan adalah lingkungan yang sehat, pelayanan yang konsisten, aturan yang jelas, serta ruang dialog yang jujur dan setara.

 

Ketika hal-hal mendasar itu tak terpenuhi, yang muncul bukan lagi kemarahan, melainkan diam. Dan diam publik, menurut banyak pengamat sosial, justru menjadi sinyal paling berbahaya bagi keberlangsungan demokrasi lokal. Kota bisa tetap berjalan, aktivitas ekonomi tetap berlangsung, tetapi jarak emosional antara warga dan pemerintah kian melebar.

 

 

Warga tidak ingin sekadar menjadi objek penertiban atau penerima kebijakan. Mereka ingin dilibatkan sebagai subjek yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan rasa memiliki terhadap wilayahnya. Kepedulian sosial masih hidup, energi kolektif masih ada, namun sering kali tidak diimbangi dengan kesediaan sistem untuk benar-benar mendengar.

 

Catatan ini menjadi cermin bahwa di tiga daerah yang saling terhubung tersebut, kepercayaan publik masih bertahan, meski terus diuji. Kepercayaan itu bukan sesuatu yang tak terbatas. Ia perlu dirawat melalui kejujuran, konsistensi, dan keberanian menyelesaikan persoalan hingga tuntas.

 

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan semata pada besarnya anggaran atau tingginya bangunan, melainkan pada kesungguhan memperlakukan warganya sebagai manusia. Dan hari ini, warga Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik masih menyampaikan pesan yang sama: mereka masih peduli, dan berharap tidak dipaksa berhenti percaya. (ivan)