SIDOARJO, PustakaJC.co – Tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 10 D, Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, dilaporkan mengalami kebocoran pada Jumat, (10/7/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Kebocoran tersebut menyebabkan air bercampur lumpur mengalir ke arah jalur rel kereta api dan memunculkan kekhawatiran warga akan potensi luapan yang lebih luas.
Aliran air bercampur lumpur dari titik kebocoran diketahui mengarah ke tanggul utama sebelum merembet ke tanggul penahan kedua dan ketiga yang berada di sisi rel kereta api. Warga khawatir kondisi tersebut dapat mengganggu jalur transportasi apabila debit lumpur terus meningkat. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (12/7/2026).
Salah seorang pemandu wisata Lumpur Lapindo, Sastro, mengatakan kebocoran pertama kali diketahui setelah terlihat genangan air dan lumpur dari area sekitar pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari lokasi.
“Dari pos pangkalan ojek terlihat ada genangan air dan lumpur. Setelah saya dekati, ternyata tanggul di titik 10 D bocor,” ujarnya, Sabtu (11/7).
Menurut dia, volume lumpur di kolam penampungan mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, permukaan lumpur disebut hampir menyentuh bibir tanggul yang mengelilingi area penampungan.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, jarak antara permukaan lumpur dan bibir tanggul diperkirakan hanya sekitar 25 sentimeter. Di sisi lain, proses pengaliran material menuju Sungai Porong dinilai belum berlangsung optimal sehingga menyebabkan permukaan lumpur terus meningkat.
“Air lumpur sempat mengalir hingga ke tanggul penahan di bawahnya. Kami khawatir kalau debit air terus naik, aliran lumpur bisa mengancam rel kereta api maupun Jalan Raya Porong,” kata Sastro.
Kondisi tersebut membuat warga berharap penanganan dilakukan secepat mungkin agar kebocoran tidak berkembang menjadi luapan yang lebih besar. Pasalnya, rel kereta api dan Jalan Raya Porong merupakan jalur vital yang setiap hari dilalui ribuan pengguna.
Menanggapi kejadian tersebut, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) langsung melakukan langkah penanganan darurat. Sejumlah ekskavator dikerahkan ke lokasi untuk menutup bagian tanggul yang bocor dan memperkuat area yang terdampak.
Seorang petugas lapangan PPLS menjelaskan bahwa pihaknya bergerak segera setelah menerima laporan dari masyarakat dan petugas di lapangan.
“Begitu mendapat informasi, kami langsung mengerahkan petugas keamanan dan menghubungi operator ekskavator untuk melakukan penanganan,” ujarnya.
Selain melakukan penutupan tanggul, PPLS juga mengoperasikan empat kapal keruk untuk mengurangi volume lumpur di kolam penampungan. Dua unit kapal keruk ditempatkan di sisi utara dan timur, sementara dua unit lainnya beroperasi di Kolam 2 dan Kolam 5 sebelum material dialirkan menuju Kali Porong.
Langkah tersebut dilakukan untuk menurunkan ketinggian permukaan lumpur sekaligus mengurangi tekanan pada tanggul penahan. Petugas juga terus memantau kondisi tanggul guna memastikan tidak terjadi kebocoran susulan di titik lain.
Hingga Sabtu (11/7), proses penanganan masih berlangsung. PPLS memastikan seluruh sumber daya yang diperlukan telah disiagakan untuk menjaga keamanan tanggul dan mencegah aliran lumpur meluas ke jalur kereta api maupun Jalan Raya Porong. (ivan)