Pasar Murah Rutin Digelar, Surabaya Catat Deflasi 0,22 Persen

surabaya | 14 Agustus 2026 07:23

Pasar Murah Rutin Digelar, Surabaya Catat Deflasi 0,22 Persen
Kegiatan pasar murah di wilayah Penjaringan Sari, Rungkut. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Pasar Murah Serentak dan Gerakan Pangan Murah (GPM) di 31 kecamatan, Rabu, (12/8/2026). Kegiatan yang salah satunya berlangsung di wilayah Penjaringansari, Kecamatan Rungkut, itu menghadirkan sejumlah kebutuhan pangan dengan harga terjangkau sekaligus melibatkan UMKM dan kelompok tani setempat.

 

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (BPSDA) Kota Surabaya Vykka Anggradevi Kusuma mengatakan tingginya antusiasme warga menunjukkan kegiatan tersebut mendapat respons positif. Menurutnya, sejumlah komoditas yang ditawarkan memiliki harga lebih rendah dibandingkan pasaran, sementara bahan pokok seperti beras dan minyak dijual dengan mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET). Dilansir dari jatimpos.co, Jumat, (14/8/3026).

 

“Antusiasme masyarakat dalam kegiatan ini cukup tinggi karena komoditas yang dijual memang harganya di bawah harga pasar,” kata Vykka.

 

 

Tak hanya bahan pokok, kegiatan tersebut juga menghadirkan komoditas hasil produksi kelompok tani dan pelaku UMKM. Salah satunya ikan lele yang dijual sekitar Rp22 ribu per kilogram melalui kelompok tani. Harga tersebut lebih rendah dibandingkan harga di pasaran yang berada di kisaran Rp26 ribu-Rp27 ribu per kilogram.

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Nanik Sukristina mengatakan GPM kali ini dikolaborasikan dengan pasar murah yang digelar Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag). Seluruh kegiatan berlangsung serentak di 31 kecamatan.

 

Pada kegiatan tersebut, komoditas yang disediakan meliputi beras SPHP sebanyak 17.000 kilogram atau 3.400 sak, Minyakita 8.160 liter, dan gula sebanyak 2.400 kilogram.

 

Sementara di titik GPM Kecamatan Rungkut, tersedia bawang merah 18 kilogram, bawang putih 14 kilogram, cabai rawit 7,5 kilogram, cabai merah besar 9,75 kilogram, serta telur ayam ras 70 kilogram.

 

Nanik menjelaskan bahan pangan tersebut disediakan melalui kolaborasi dengan Bulog dan sejumlah distributor. Harga yang ditawarkan dibuat lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.

 

 

Minyakita, misalnya, dijual sekitar Rp15.500 per liter, sedangkan beras SPHP sekitar Rp58 ribu per sak.

 

Kepala Dinkopumdag Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan pasar murah tidak hanya digelar untuk mendekatkan akses pangan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu langkah Pemkot Surabaya dalam menekan inflasi.

 

Menurut Mia, kegiatan tersebut akan digelar secara rutin setiap bulan hingga Desember 2026. Dalam pelaksanaannya, satu kecamatan menjadi titik GPM, sedangkan 30 kecamatan lainnya menggelar pasar murah secara serentak.

 

“Komoditas utama yang disediakan dalam pasar murah yakni beras SPHP, Minyakita, dan gula. Pemkot Surabaya juga membuka ruang bagi UKM, kegiatan padat karya, hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KKMP) untuk ikut berpartisipasi,” ujar Mia.

 

 

Sementara itu, Kepala BPS Kota Surabaya Arrief Chandra Setiawan menilai kegiatan pasar murah dapat membantu menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan pangan masyarakat. Menurutnya, ketersediaan pangan di Surabaya saat ini masih aman.

 

Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan inflasi Surabaya. Pada Juli 2026, Surabaya mencatat deflasi bulanan sebesar 0,22 persen, lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang mencapai 0,14 persen.

 

Secara year to date hingga Juli 2026, inflasi Surabaya tercatat sebesar 1,95 persen dan masih terkendali dalam sasaran inflasi 2,5 persen.

 

“Masih aman. Artinya, aman sampai beberapa bulan ke depan untuk stok pangan kita,” ujar Arrief.

 

 

Bagi warga Penjaringansari, Rungkut, program tersebut memberikan manfaat langsung. Retno mengaku membeli sejumlah kebutuhan, mulai dari ayam, telur, beras, sosis hingga minyak.

 

Ia menilai harga yang ditawarkan cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Selain mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau, warga juga dapat membeli sejumlah produk dari pelaku UMKM dan kelompok tani lokal.

 

Pemkot Surabaya berharap pelaksanaan pasar murah dan GPM secara rutin dapat menjaga keterjangkauan harga pangan sekaligus membantu mengendalikan inflasi di Kota Surabaya hingga akhir 2026. (ivan)