SURABAYA, PustakaJC.co - Gelombang suhu ekstrem yang memeluk Kota Surabaya belakangan ini telah melampaui batas fenomena cuaca biasa. Di balik kibasan kipas angin dan derasnya alir pendingin udara (AC), tersimpan ketimpangan ekonomi yang makin telanjang. Panas terik Kota Pahlawan tak sekadar mengucurkan keringat, tetapi juga mengubah udara sejuk menjadi komoditas mahal yang diam-diam memeras daya beli rakyat kecil.
Bagi Warni (56), seorang penjahit di kawasan Bronggalan, Surabaya, bertahan hidup di tengah suhu ruang yang menggelegak bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Di ruang tamu rumahnya yang mungil, deru mesin jahit kini beradu bising dengan dua kipas angin yang menyala tanpa jeda. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (11/10/2026).
"Suhu udara belakangan ini sangat gerah (sumuk). Baru beraktivitas sebentar saja keringat sudah mengucur deras. Kalau siang tidak pakai AC, rasanya tidak kuat," keluh Warni.