“Dulu memang nggak seramai ini. Tapi sejak dipegang Bu Nanik, rasanya makin enak, sampai viral bukan Cuma di Indonesia, tapi juga sampai luar negeri,” ujar Mega, karyawan yang bekerja sejak pandemi dan menjadi saksi hidup transformasi warung ini.
Menu yang ditawarkan memang sederhana: lontong mi, gado-gado, tahu campur, dan es dawet. Tapi soal rasa, bukan main. Es dawet, misalnya, disajikan dalam mangkuk berisi dawet hijau lembut, ketan hitam manis, srintil, bubur sumsum gurih, mutiara, biji salak, dan disiram santan segar serta gula jawa cair. Satu suapan cukup untuk membuat pelanggan kembali lagi.
Untuk menu berat, lontong mi menjadi andalan. Perpaduan lontong, mi kuning, petis, tahu, lento, kuah gurih, taoge, dan kerupuk, menciptakan harmoni rasa khas Surabaya yang tak lekang waktu.