Ia juga menambahkan, kandungan karbohidrat ubi tidak kalah dengan nasi. Banyak warga Bawean yang tumbuh besar dan sukses dengan makanan sederhana seperti obi kolop.
Hal senada disampaikan H Subki. Ia menegaskan, sajian obi kolop bukan hanya soal kuliner, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat.
“Ada nilai silaturahmi dan kebersamaan. Saat berkumpul menikmati obi kolop, yang terbangun bukan hanya rasa kenyang, tetapi juga ikatan sosial sesama warga Bawean,” jelasnya.
Di tengah perubahan zaman, obi kolop tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Bawean. Dari sepiring ubi dan ikan pindang, tersimpan pesan tentang kemandirian pangan, kekuatan tradisi, dan semangat kebersamaan yang terus hidup, bahkan saat laut tak lagi bisa diandalkan. (ivan)