GRESIK, PustakaJC.co - Di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, terdapat makanan tradisional yang menjadi penanda datangnya musim angin barat, saat nelayan tak bisa melaut. Makanan itu bernama obi kolop.
Obi kolop, atau ubi rebus maupun kukus, biasanya disajikan bersama jukok pendeng atau pindang ikan tongkol, ikan kering (jukok kerreng), serta sambal mentah khas Bawean yang disebut buje cabbih. Dilansir dari gresiksatu.com, Minggu, (15/2/2026).
Menu tradisional ini kerap hadir di meja makan saat musim penghujan atau angin barat, ketika harga ikan melonjak dan aktivitas melaut terhenti. Obi kolop tidak hanya menjadi kuliner khas Pulau Bawean, tetapi juga berperan penting sebagai penyelamat ketahanan pangan masyarakat nelayan saat kondisi laut tidak bersahabat.
Bagi perantau Bawean, hidangan ini bukan sekadar makanan pengganjal perut. Obi kolop menghadirkan kembali kenangan kampung halaman. Tak jarang warga Bawean yang bermukim di Gresik berkumpul menikmati hidangan tersebut sambil berbagi cerita tentang tanah kelahiran mereka.
Salah satu tempat yang menyediakan menu ini adalah Warung Atung di Jalan Jaksa Agung, Sidokumpul, Gresik.
Abdul Latif, warga Bawean yang telah lama menetap di Gresik, mengatakan tradisi menyajikan obi kolop sudah mengakar sejak lama.
“Ini memang kebiasaan orang Bawean. Saat kumpul keluarga atau kerabat, obi kolop dan pendeng jukok tongkol hampir selalu ada. Meski di perantauan, tradisi ini tetap kami jaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ubi menjadi pengganti nasi yang cukup mengenyangkan, sementara pindang tongkol menjadi sumber protein sederhana namun bergizi. Kombinasi tersebut mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bawean dalam menghadapi masa sulit.
Tokoh Bawean di Gresik, H Muhammad Ilyas, menilai obi kolop memiliki makna lebih dalam sebagai warisan nenek moyang terkait ketahanan pangan.
“Dulu di Bawean, ubi bahkan dikeringkan lalu ditumbuk menjadi makanan yang disebut aruk. Itu bukti bahwa sejak dulu masyarakat sudah menyiapkan pangan alternatif saat musim tidak bersahabat,” kata Latif.
Ia juga menambahkan, kandungan karbohidrat ubi tidak kalah dengan nasi. Banyak warga Bawean yang tumbuh besar dan sukses dengan makanan sederhana seperti obi kolop.
Hal senada disampaikan H Subki. Ia menegaskan, sajian obi kolop bukan hanya soal kuliner, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat.
“Ada nilai silaturahmi dan kebersamaan. Saat berkumpul menikmati obi kolop, yang terbangun bukan hanya rasa kenyang, tetapi juga ikatan sosial sesama warga Bawean,” jelasnya.
Di tengah perubahan zaman, obi kolop tetap bertahan sebagai identitas budaya masyarakat Bawean. Dari sepiring ubi dan ikan pindang, tersimpan pesan tentang kemandirian pangan, kekuatan tradisi, dan semangat kebersamaan yang terus hidup, bahkan saat laut tak lagi bisa diandalkan. (ivan)