Plastik Mahal dan Langka UMKM Gresik Mulai Tercekik

kuliner | 10 April 2026 06:04

Plastik Mahal dan Langka UMKM Gresik Mulai Tercekik
Stand UMKM yang sepi pelanggan. (dok gresiksatu)

GRESIK, PustakaJC.co – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Gresik mulai terhimpit lonjakan harga bahan kemasan plastik pasca Lebaran 2026. Tak hanya mahal, ketersediaan barang di pasaran juga mulai langka.

 

Kenaikan harga yang mencapai 30 hingga 40 persen ini paling dirasakan pelaku usaha minuman kemasan yang bergantung pada botol plastik sebagai wadah utama produk. Dampaknya, biaya produksi melonjak, sementara harga jual belum bisa ikut dinaikkan. Dilansir dari gresiksatu.com, (10/4/2026):

 

Salah satu pelaku UMKM minuman tradisional, M. Ismail Fahmi, mengaku harus berburu stok hingga ke pabrik di kawasan Rungkut karena barang di toko-toko kosong.

 

“Kenaikannya sekitar 30 sampai 40 persen. Saya sampai langsung ke pabrik karena di toko sudah banyak yang kosong,” ujarnya, Kamis, (9/4/2026).

 

 

 

Ia menyebut harga botol plastik yang sebelumnya Rp650 per botol kini naik menjadi Rp1.000. Kondisi tersebut membuat margin keuntungan terpangkas hampir setengah.

 

“Biasanya untung Rp2.000 per botol, sekarang mungkin hanya Rp1.000. Kami jual ke agen Rp4.500, tapi margin makin tipis,” jelasnya.

 

Meski biaya produksi meningkat, Fahmi belum berani menaikkan harga jual. Ia mempertimbangkan daya beli masyarakat serta ketatnya persaingan produk sejenis.

 

“Kalau terlalu mahal, konsumen bisa lari,” katanya.

 

 

Selain persoalan harga dan kelangkaan, pelaku UMKM juga dihadapkan pada minimnya alternatif kemasan pengganti plastik, khususnya untuk produk minuman tradisional yang membutuhkan kemasan praktis dan aman.

 

“Kami belum menemukan pengganti yang cocok. Produk seperti ini memang harus pakai botol plastik,” tambahnya.

 

Pelaku UMKM berharap ada langkah cepat dari pemerintah maupun pihak terkait untuk menstabilkan harga serta memastikan distribusi bahan kemasan tetap lancar, agar usaha kecil bisa bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. (ivan)