SURABAYA, PustakaJC.co – Dunia kerja di Indonesia tengah mengalami transformasi besar. Bukan karena teknologi semata, melainkan karena munculnya generasi baru yang membawa nilai-nilai kerja berbeda: Generasi Z.
Lahir antara tahun 1997 hingga 2012, generasi ini kini menjadi tulang punggung berbagai sektor industri — mulai dari startup, lembaga pemerintahan, hingga korporasi multinasional. Di tahun 2025, dominasi mereka terasa kuat, dan dampaknya sangat signifikan terhadap budaya kerja nasional.
Bagi Generasi Z, pekerjaan bukan hanya soal penghasilan atau jabatan. Mereka menuntut makna, fleksibilitas, dan keseimbangan hidup. Lingkungan kerja yang kaku dan hierarkis kini mulai ditinggalkan, digantikan oleh pola kerja yang lebih egaliter, terbuka, dan berbasis kolaborasi.
Mereka ingin ruang untuk berekspresi, berinovasi, dan berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar daripada rutinitas kantor. Tak heran, banyak perusahaan mulai menyesuaikan budaya internal agar lebih manusiawi dan adaptif terhadap ekspektasi generasi ini.
Konsep hybrid work kini menjadi tren utama tahun 2025. Generasi Z lebih produktif ketika diberi kepercayaan untuk menentukan waktu dan tempat kerja sesuai ritme pribadi.
Dengan dukungan teknologi digital, aplikasi kolaboratif seperti Slack, Notion, hingga Microsoft Teams menjadi “ruang kerja virtual” mereka. Fleksibilitas bukan hanya kenyamanan, tapi juga strategi menjaga produktivitas dan keseimbangan mental.
Perubahan besar ini menantang para pemimpin dari generasi sebelumnya. Gaya otoritatif kini tergantikan oleh pendekatan coaching dan mentoring. Pemimpin dituntut untuk lebih empatik, komunikatif, dan terbuka terhadap ide-ide muda.
Namun, di sisi lain, Generasi Z juga perlu belajar soal disiplin dan tanggung jawab, agar fleksibilitas tidak disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas.
Perubahan budaya kerja yang dipicu Generasi Z turut mendorong reformasi kebijakan ketenagakerjaan di Indonesia. Pemerintah dan dunia usaha kini lebih memperhatikan isu kesejahteraan mental, jam kerja fleksibel, dan pengembangan keterampilan digital.
Lembaga pendidikan juga beradaptasi. Kampus mulai menanamkan mata kuliah seperti literasi digital, kepemimpinan kolaboratif, dan inovasi sosial agar lulusan siap menghadapi dunia kerja yang terus berubah.
Generasi Z cenderung memilih organisasi yang punya misi sosial dan keberlanjutan lingkungan. Mereka ingin bekerja dengan tujuan yang berdampak positif bagi masyarakat dan bumi. Hal ini memacu banyak perusahaan untuk memperkuat citra Corporate Social Responsibility (CSR) dan praktik kerja yang ramah lingkungan.
Transformasi budaya kerja yang dibawa Generasi Z bukan sekadar tren, tapi gerakan sosial. Dunia kerja Indonesia kini berada di persimpangan antara tradisi dan inovasi.
Jika sinergi antar generasi dikelola dengan baik, Indonesia berpeluang melahirkan ekosistem kerja yang adaptif, berdaya saing global, dan lebih manusiawi. (int)