Disleksia Bukan Kebodohan Gangguan Belajar yang Masih Disalahpahami di Sekolah

gaya hidup | 15 Februari 2026 08:50

Disleksia Bukan Kebodohan Gangguan Belajar yang Masih Disalahpahami di Sekolah
ilustrasi dunia unik anak Disleksia. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Seorang anak di sebuah sekolah di Bogor masih duduk di kelas 4, padahal usianya seharusnya sudah kelas 7. Ia tampak normal, mampu berbicara lancar, bercanda, dan memahami instruksi. Namun saat berhadapan dengan huruf, ia seolah kehilangan arah. Ia belum mampu membaca dan menulis.

 

Kondisi itu bukan karena malas atau bodoh. Ia diduga mengalami disleksia—gangguan belajar spesifik yang masih sering tidak dikenali oleh sistem pendidikan. Dilansir dari antaranews.com, Minggu, (15/2/2026).

 

Menurut International Dyslexia Association, disleksia adalah kondisi neurobiologis sejak lahir yang ditandai dengan kesulitan membaca, mengeja, dan mengenali hubungan huruf dengan bunyi. Kondisi ini bukan penyakit, dan tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan.

 

 

Justru banyak tokoh dunia dengan disleksia yang menunjukkan kecerdasan luar biasa, seperti Albert EinsteinLeonardo da Vinci, dan Steve Jobs. Di dunia hiburan, nama seperti Whoopi Goldberg dan Tom Cruise juga diketahui memiliki kondisi serupa.

 

Di Indonesia, figur publik seperti Deddy Corbuzier dan Tamara Bleszynski juga terbuka mengenai pengalaman mereka dengan disleksia.

 

Masalah utama bukan pada anak, melainkan pada ketidaktahuan lingkungan. Anak dengan disleksia kerap dicap malas, bodoh, atau kurang berusaha. Label ini dapat merusak kepercayaan diri dan memicu kecemasan, depresi, bahkan putus sekolah.

 

 

 

Padahal, tanda disleksia dapat dikenali sejak dini. Anak mungkin sulit membedakan huruf mirip seperti b dan d, membaca lambat, sering salah mengeja, atau kesulitan menyalin teks. Namun dalam komunikasi lisan, mereka sering menunjukkan kemampuan yang baik.

 

“Disleksia bukan sesuatu yang harus disembuhkan, melainkan dikelola dengan pendekatan yang tepat,”tulis A. Roni Kurniawan, praktisi pendidikan dan pengembang metode edukasi berbasis psikologi, di antara.

 

Pendekatan yang efektif adalah metode fonik multisensori, seperti Orton-Gillingham. Metode ini menggabungkan visual, pendengaran, dan gerakan, sehingga anak belajar mengenali huruf secara bertahap dan konsisten.

 

 

 

Teknologi juga menjadi alat bantu penting, seperti fitur text-to-speech, buku audio, dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang membantu anak mengakses informasi tanpa bergantung sepenuhnya pada teks.

 

Masalah disleksia tidak bisa diselesaikan hanya oleh orang tua. Sekolah dan pemerintah perlu menyediakan sistem skrining dini, pelatihan guru, serta kebijakan pendidikan inklusif.

 

Disleksia bukan tragedi. Ketidaktahuanlah yang menjadikannya tragedi. Setiap anak memiliki potensi, dan masa depan mereka tidak boleh terhambat hanya karena sistem belum siap memahami cara belajar yang berbeda. (ivan)