SURABAYA, PustakaJC.co - Luka batin pada anak kerap lahir dari kebiasaan kecil orang tua yang dianggap sepele. Tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi dampaknya bisa terbawa hingga anak tumbuh dewasa. Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam pola pengasuhan modern yang menekankan kesehatan mental anak.
Salah satu kebiasaan yang sering terjadi adalah mengabaikan emosi anak. Ketika anak sedih atau marah, namun respons orang tua cenderung meremehkan atau bahkan mengabaikan, anak bisa merasa tidak didengar. Dalam jangka panjang, hal ini membuat mereka kesulitan memahami dan mengelola emosinya sendiri. Dilansir dari gresijsatu.com, Jumat, (1/5/2026).
Selain itu, kritik keras yang dilakukan berulang juga menjadi pemicu luka batin. Alih-alih membangun, kritik yang tajam justru menanamkan rasa tidak cukup baik dalam diri anak. Dampaknya, anak tumbuh dengan kepercayaan diri rendah dan mudah merasa gagal, baik dalam hubungan sosial maupun dunia kerja.
Kebiasaan lain yang tak kalah berbahaya adalah membandingkan anak dengan orang lain. Entah dengan saudara, teman, atau anak tetangga, perbandingan ini menciptakan tekanan psikologis. Anak bisa merasa kalah, iri, bahkan kehilangan identitas dirinya sendiri.
Dampaknya tidak main-main. Secara psikologis, anak bisa merasa tidak berharga dan sulit percaya pada orang lain. Dari sisi emosional, mereka cenderung menutup diri dan kesulitan mengatur perasaan. Sementara secara sosial, hubungan yang dibangun sering kali tidak sehat karena dihantui rasa takut ditolak.
Untuk mencegah hal tersebut, orang tua perlu mulai mengubah pendekatan. Validasi emosi anakmenjadi langkah awal yang penting, cukup dengan mendengarkan dan merespons secara empatik. Kritik pun sebaiknya diarahkan pada perilaku, bukan menyerang pribadi anak. Dan yang tak kalah penting, hindari perbandingan—setiap anak memiliki potensi yang berbeda.
Pola asuh bukan soal sempurna atau tidak, tetapi soal kesadaran. Karena dari kebiasaan kecil hari ini, terbentuk mental anak di masa depan. (ivan)