JAKARTA, BeritaGov.id – Kebiasaan mengetik dan menggunakan perangkat elektronik dalam waktu lama ternyata tidak boleh dianggap sepele. Aktivitas yang dilakukan berulang-ulang setiap hari dapat memicu berbagai gangguan pada persendian, saraf, hingga tendon yang berujung pada penurunan fungsi tangan.
Menurut Dr. Abhishek Barli, ahli bedah penggantian sendi robotik, trauma, dan artroskopi di Rumah Sakit Yashoda Hyderabad, gerakan berulang seperti mengetik atau mengklik tetikus dalam waktu lama dapat menyebabkan cedera yang dikenal dengan istilah Repetitive Strain Injury (RSI).
Sebagaimana dikutip dari Hindustan Times, kondisi tersebut kini semakin banyak ditemukan pada pekerja kantoran, mahasiswa, pekerja teknologi informasi, hingga remaja yang menghabiskan banyak waktu di depan layar komputer maupun gawai.
Dr. Barli mengingatkan agar masyarakat tidak mengabaikan berbagai gejala awal yang muncul akibat aktivitas mengetik berlebihan. Gejala tersebut sering kali muncul secara perlahan dan dianggap sebagai kelelahan biasa.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesemutan, mati rasa pada jari-jari, nyeri pada ibu jari, ketidaknyamanan di area pergelangan tangan, hingga sensasi terbakar pada lengan bawah.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami penurunan kekuatan genggaman tangan serta rasa lelah yang berkepanjangan saat menggunakan perangkat elektronik.
"Beberapa melaporkan jari-jari mereka terkunci atau berbunyi klik," kata Dr. Barli.
Menurutnya, meski gejala awal terlihat ringan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi masalah yang lebih serius apabila tidak segera ditangani. Karena itu, ia menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila keluhan terus berlangsung atau semakin memburuk.
Gerakan tangan yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda istirahat dan tanpa posisi kerja yang ergonomis berisiko menyebabkan peradangan kronis serta penekanan saraf pada area pergelangan tangan.
Untuk mencegah kondisi tersebut, Dr. Barli menyarankan agar posisi keyboard dan tetikus disesuaikan setinggi siku sehingga tangan tidak bekerja dalam posisi yang terlalu menekuk atau menegang.
Ia juga menyarankan setiap pengguna komputer untuk beristirahat sejenak setiap 45 hingga 60 menit, melakukan peregangan ringan pada jari dan pergelangan tangan, serta memperbaiki postur tubuh saat bekerja.
Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai efektif untuk mengurangi risiko cedera akibat aktivitas mengetik yang dilakukan dalam jangka panjang.
Dr. Barli menjelaskan bahwa sebagian besar kasus kelelahan dan cedera tangan akibat gerakan berulang dapat pulih apabila terdeteksi sejak dini dan mendapatkan penanganan yang tepat.
Meski demikian, terdapat beberapa gangguan yang dapat meninggalkan dampak jangka panjang, salah satunya carpal tunnel syndrome atau sindrom lorong karpal yang cukup sering dialami pekerja dengan aktivitas mengetik tinggi.
"Bahkan setelah perawatan, carpal tunnel syndrome dapat menyebabkan mati rasa, kelemahan, kehilangan ketangkasan, dan penurunan kekuatan genggaman," ujarnya.
Karena itu, menjaga pola kerja yang sehat serta memberikan waktu istirahat yang cukup bagi tangan menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan yang dapat memengaruhi produktivitas maupun kualitas hidup seseorang. (nov)