Meski demikian, tantangan berikutnya adalah menjaga ketertarikan masyarakat agar konsumsi kimpul dan pangan lokal lainnya tidak berhenti ketika tren di media sosial mereda.
Lailatul mengatakan, persoalan utama diversifikasi pangan bukan sekadar ketersediaan kimpul. Tantangan yang lebih besar adalah mengubah preferensi masyarakat yang selama ini terbiasa menjadikan nasi sebagai makanan pokok.
Karena itu, kimpul dinilai lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari diversifikasi pangan dan substitusi sebagian sumber karbohidrat, bukan semata-mata sebagai pengganti nasi.
“Bagi orang yang memiliki pemikiran kalau belum makan nasi berarti belum makan, sepertinya kimpul lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti nasi,” jelasnya.