SURABAYA, PustakaJC.co, Minggu, (4/10/2026). Tren gaya hidup You Only Live Once (YOLO) yang kian populer di kalangan generasi muda dinilai perlu disikapi secara bijak. Memanjakan diri dari hasil kerja keras dinilai sah-sah saja, namun tanpa perencanaan matang, pola konsumsi berlebih berpotensi mengancam stabilitas finansial di masa depan.
Perencana Keuangan, Melvin Mumpuni, menjelaskan bahwa tingginya dorongan menikmati hidup saat ini kerap dipicu oleh fenomena psikologis yang disebut present bias. Kondisi ini membuat seseorang cenderung memberi nilai lebih tinggi pada kepuasan instan dibandingkan manfaat jangka panjang yang baru dirasakan beberapa tahun mendatang.
"Ngopi Rp50.000, makan enak, konser, traveling, atau nongkrong memberikan kepuasan yang langsung dirasakan. Sebaliknya, menabung untuk uang muka rumah atau investasi tidak memberikan hasil instan," ujar Melvin.