SURABAYA, PustakaJC.co – Gangguan pencernaan yang terjadi berulang kali, tubuh mudah terserang penyakit, hingga masalah kulit yang sulit diatasi dapat menjadi tanda adanya gangguan keseimbangan mikroorganisme di dalam usus.
Salah satu hal yang dapat diperhatikan untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan adalah kecukupan probiotik. Mikroorganisme hidup ini berperan membantu menjaga keseimbangan bakteri baik dalam sistem pencernaan sekaligus mendukung sejumlah fungsi tubuh. Dilansir dari gresiksatu.com Jumat, (30/10/2026).
Probiotik secara alami dapat ditemukan dalam berbagai makanan fermentasi, seperti yogurt, kefir, kimchi, dan tempe. Selain itu, probiotik juga tersedia dalam bentuk suplemen yang penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Kesehatan usus sendiri tidak hanya berkaitan dengan proses mencerna makanan. Mikrobioma usus turut berperan dalam metabolisme nutrisi dan mendukung sistem kekebalan tubuh. Bahkan, hubungan antara usus dan otak juga menjadi perhatian dalam berbagai penelitian kesehatan.
Ada sejumlah kondisi yang dapat menjadi alasan seseorang perlu lebih memperhatikan kesehatan mikrobioma usus.
1. Sering mengalami kembung dan gangguan pencernaan
Perut kembung setelah makan, produksi gas berlebih, diare, sembelit, hingga perubahan pola buang air besar yang tidak menentu merupakan beberapa keluhan pencernaan yang perlu diperhatikan.
Gangguan keseimbangan mikrobioma dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Dalam kasus tertentu, jenis probiotik tertentu berpotensi membantu mengurangi keluhan pencernaan.
2. Baru saja menjalani pengobatan antibiotik
Antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Namun, penggunaannya juga dapat memengaruhi bakteri baik yang hidup di dalam saluran pencernaan.
Kondisi tersebut pada sebagian orang dapat memicu gangguan pencernaan, termasuk diare setelah penggunaan antibiotik.
Dalam situasi tertentu, probiotik dapat membantu mengurangi risiko diare yang berkaitan dengan penggunaan antibiotik. Namun, jenis dan waktu konsumsinya perlu disesuaikan dengan kondisi pasien serta anjuran tenaga kesehatan.
3. Tubuh sering terserang penyakit
Kondisi tubuh yang mudah terserang infeksi juga menjadi alasan untuk memperhatikan kesehatan usus.
Hal ini berkaitan dengan peran mikrobioma dalam mendukung sistem kekebalan tubuh. Keseimbangan mikroorganisme di saluran pencernaan turut berkontribusi terhadap fungsi pertahanan tubuh.
Meski demikian, seseorang yang sering mengalami infeksi tidak serta-merta mengalami gangguan mikrobioma. Pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
4. Mengalami masalah kulit secara berulang
Hubungan antara kesehatan usus dan kondisi kulit dikenal dengan istilah gut-skin connection.
Sejumlah penelitian mengkaji keterkaitan mikrobioma usus dengan kondisi peradangan yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan kulit, termasuk jerawat, eksim, dan rosacea.
Ketidakseimbangan mikroorganisme dalam usus diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap proses tersebut. Meski begitu, masalah kulit memiliki banyak penyebab sehingga tidak dapat langsung dikaitkan dengan kekurangan probiotik.
5. Sering mengalami brain fog dan perubahan suasana hati
Kesulitan berkonsentrasi, mudah mengalami kelelahan mental, hingga perubahan suasana hati juga menjadi bagian dari hubungan kesehatan usus dan otak.
Hubungan tersebut dikenal sebagai gut-brain axis, yakni komunikasi dua arah antara saluran pencernaan dan sistem saraf.
Mikrobioma usus diketahui terlibat dalam proses pembentukan sejumlah senyawa yang berkaitan dengan fungsi otak. Namun, kaitan antara probiotik, kemampuan kognitif, dan kesehatan mental masih terus diteliti.
Karena itu, konsumsi probiotik tidak dapat dijadikan satu-satunya solusi untuk mengatasi gangguan konsentrasi maupun masalah suasana hati.
Tidak Semua Orang Membutuhkan Suplemen Probiotik
Meski memiliki sejumlah manfaat potensial, konsumsi suplemen probiotik tidak selalu diperlukan oleh setiap orang.
Bagi individu yang sehat, pemenuhan kebutuhan bakteri baik dapat didukung melalui pola makan seimbang, termasuk mengonsumsi makanan fermentasi dan sumber serat seperti sayuran, buah-buahan, serta biji-bijian.
Sementara itu, bagi mereka yang mengalami gangguan pencernaan secara berulang atau keluhan kesehatan lainnya, konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan.
Pemilihan probiotik juga tidak bisa dilakukan sembarangan karena manfaatnya dapat berbeda bergantung pada jenis dan strain mikroorganisme yang digunakan serta kondisi kesehatan seseorang. (ivan)