SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Kota Surabaya terus menguatkan komitmen dalam pembinaan karakter remaja dengan pendekatan yang lebih humanis dan berkelanjutan. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa pihaknya kini lebih memilih mengasramakan anak-anak yang pernah terlibat kenakalan remaja dibandingkan sekadar memberi efek jera.
“Setelah 3-4 bulan, ternyata ada yang kembali lagi ke kebiasaan lama. Sehingga saya membuka asrama. Ada Kampung Anak Negeri, ada Bibit Unggul, ada program Satu Sarjana Satu Keluarga Miskin,” ujar Cak Eri dikutip dari kompas.com, Rabu, (28/5/2025).
Langkah ini merupakan kelanjutan dari program Sekolah Kebangsaan yang pernah bekerja sama dengan TNI pada 2023. Meski memberi efek awal yang positif, pendekatan lama dinilai belum menyentuh akar permasalahan.
Kini, melalui Kampung Anak Negeri (KANRI), Asrama Bibit Unggul, dan program 1 Gamis 1 Sarjana, Pemkot ingin memberi pendampingan jangka panjang yang menyasar anak-anak jalanan, pengamen, pengguna lem, hingga pelaku perkelahian.
“Kalau tidak punya biaya, serahkan ke Pemkot. Akan kami sekolahkan,” tegas Eri, yang juga bergelar doktor di bidang Pengembangan SDM.
“Anak-anak ini bukan masalah, mereka adalah tanggung jawab kita bersama,” tambah walikota Jatim itu
Melalui program 1 Gamis 1 Sarjana, Pemkot Surabaya menyiapkan 200 kuota asrama untuk siswa dari keluarga miskin, serta tambahan 200 kuota untuk jenjang SMP dan SMA. Semua dilakukan tanpa mengekspos identitas peserta.
“Sejak 2022 saya bergerak, saya berusaha menjaga privasi warga saya yang saya datangi. Saya tidak ingin mereka malu atau minder,” tambah Cak Eri.
Selain anak-anak, orang tua mereka juga mendapat perhatian. Kepala DP3A-PPKB Surabaya, Ida Widyawati, menjelaskan bahwa pendampingan keluarga dan program Padat Karya ditujukan bagi warga dengan penghasilan di bawah Rp 4 juta per bulan.
“Pemkot siap membantu keluarga yang tidak mampu dengan memfasilitasi biaya pendidikan anak, termasuk melalui asrama,” kata Ida.
Berbeda dengan pendekatan hukuman, suasana di asrama dibangun dengan nilai kekeluargaan dan semangat pembelajaran. Harapannya, pola pikir anak-anak bisa berubah melalui pembinaan yang konsisten dan ramah. (ivan)