74 Ribu Ton Gula Menumpuk di Jatim, Khofifah Bergerak Jembatani Petani dan Danantara

pemerintahan | 07 September 2025 16:38

74 Ribu Ton Gula Menumpuk di Jatim, Khofifah Bergerak Jembatani Petani dan Danantara
Gubernur Khofifah Indar Parawansa. (dok detik)

SURABAYA, PustakaJC.co - Puluhan ribu ton gula petani di Jawa Timur belum terserap pasar. Kondisi ini membuat petani kewalahan. Gubernur Khofifah Indar Parawansa turun tangan, menjembatani komunikasi antara petani dan Danantara agar penyerapan segera berjalan.

 

 

Berdasarkan data Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), gula petani yang belum terserap di Jawa Timur mencapai 74.700,38 ton. Gula tersebut kini menumpuk di gudang-gudang pabrik gula, terutama di wilayah Tapal Kuda seperti Jember, Lumajang, Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi. Dilansir dari detik.com, Minggu, (7/9/2025).

 

“Kita sudah komunikasikan dengan Danantara. Mereka akan menyiapkan anggaran Rp 1,5 triliun untuk menyerap tebu rakyat,” kata Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Sabtu, (6/9/2025).

 

 

 

 

Khofifah menegaskan, Pemprov Jatim terus menjembatani komunikasi agar gula petani terserap dan logistik masyarakat tetap terjaga. 

 

“Komunikasi sudah berjalan sejak lama. Misalnya di Lumajang, gula langsung bisa terserap saat itu juga. Kita harus pastikan logistik masyarakat aman, sesuai HET atau HPP, tanpa merugikan petani,” tegasnya.

 

Sekjen DPP APTRI, Sunardi Eko Sukamto, mengakui petani tebu kini berada dalam posisi sulit akibat gula yang menumpuk. 

 

“Kami sudah kewalahan luar biasa. Beberapa pabrik gula tidak bisa giling karena gudangnya penuh. Operasional kebun juga tersendat karena pembiayaan putus-putus,” ujarnya di Surabaya, Jumat, (15/8/2025).

 

 

APTRI berharap janji pemerintah melalui Danantara segera terealisasi, termasuk pencairan dana Rp 1,5 triliun ke Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) untuk membeli gula petani. 

 

Kami harap penyelesaian konkret bisa ada dari Agustus sampai November ini, agar program menuju swasembada gula 2027 tidak sekadar mimpi,” tambah Sunardi.

 

Kehadiran negara dalam melindungi petani tebu dinilai krusial. Dukungan penyerapan gula rakyat tidak hanya menjaga kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju swasembada gula nasional. (ivan)