Arus Logistik Jelang Lebaran Naik, Pelabuhan di Jatim-Jateng Siapkan Antisipasi

pemerintahan | 06 Maret 2026 04:23

Arus Logistik Jelang Lebaran Naik, Pelabuhan di Jatim-Jateng Siapkan Antisipasi
Aktivitas pelabuhan peti kemas. (dok suarasurabaya)

SURABAYA, PustakaJC.co – Aktivitas logistik nasional mulai meningkat menjelang Lebaran 2026. Pelaku usaha logistik bersama pengelola pelabuhan menyiapkan berbagai strategi agar arus barang tetap lancar dan tidak menimbulkan penumpukan di terminal peti kemas.

 

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Jawa Tengah–DIY, Teguh Arif Handoko, mengatakan volume kargo di sejumlah pelabuhan mengalami kenaikan signifikan. Salah satunya di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Dilansir dari suarasurabaya.net, Jumat, (6/3/2026).

 

Menurutnya, volume kargo meningkat hingga sekitar 130 persen dibandingkan hari biasa. Peningkatan ini terlihat dari rotasi kontainer yang sebelumnya rata-rata sekitar 2.800 unit per hari menjadi sekitar 3.000 unit per hari.

 

“Tahun 2023 sekitar 700.000 TEUs, 2024 naik menjadi 800.000 TEUs, dan 2025 sudah tembus 1 juta TEUs. Ini signifikan, meskipun perusahaan di kawasan industri seperti Kendal dan Batang baru sekitar 20 persen yang sudah beroperasi,” kata Teguh dalam keterangan resminya, Kamis, (5/3/2026).

 

 

 

Selain faktor Lebaran, peningkatan arus logistik juga dipicu masuknya investasi industri di Jawa Tengah, khususnya di Kawasan Industri Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang.

 

Sementara itu, Ketua ALFI Jawa Timur Sebastian Wibisono memprediksi arus logistik di wilayah Surabaya juga akan meningkat sekitar 80 persen menjelang Lebaran.

 

Ia menjelaskan, Surabaya selama ini menjadi salah satu jalur transit utama distribusi barang ke wilayah Indonesia timur. Karena itu, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak diperkirakan meningkat hingga periode Lebaran.

 

“Kebetulan Nataru, Imlek dan Idulfitri waktunya berdekatan, sehingga beban logistik memang lebih tinggi. Saat Imlek banyak impor masuk ke Surabaya, lalu didistribusikan ke wilayah seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan,” ujarnya.

 

 

 

Untuk mengantisipasi kepadatan, ALFI Jawa Timur menerapkan strategi pengalihan lokasi penumpukan kontainer. Gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor akan dimanfaatkan sementara untuk menampung barang impor, setelah berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai.

 

“Setiap tahun memang ada migrasi antarterminal, terutama untuk kontainer ekspor dan impor. Di Surabaya ada dua terminal utama, yakni Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya,” jelasnya.

 

PT Pelindo Terminal Petikemas juga mengaku telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi di sejumlah terminal yang dikelola. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan sistem operasi terminal memungkinkan pihaknya memprediksi tingkat kepadatan dermaga maupun lapangan penumpukan kontainer.

 

“Kami melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk optimalisasi lapangan penumpukan. Kurang lebih selama 16 hari peti kemas akan berada di dalam terminal karena adanya pembatasan angkutan barang saat Lebaran,” ujarnya.

 

 

 

 

Selain itu, pengelola terminal juga menyiapkan lokasi pemindahan penumpukan atau overbrengen untuk mengurai kepadatan di area terminal. Selama periode libur Lebaran, operasional terminal peti kemas tetap berjalan penuh selama 24 jam setiap hari.

 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, menilai peningkatan aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Tanjung Emas menjadi sinyal positif bagi perputaran ekonomi.

 

Ia memperkirakan volume bongkar muat menjelang Lebaran meningkat sekitar 20 persen dibanding hari biasa, bahkan bisa mencapai 25 persen sekitar 10 hari sebelum hari raya.

 

“Sejak Desember sudah terlihat peningkatan aktivitas bongkar muat. Ini akan terus naik mendekati Lebaran,” ujarnya.

 

 

 

Menurutnya, komoditas yang mendominasi peningkatan arus barang adalah kebutuhan konsumsi musiman, seperti bahan pangan, produk fesyen, hingga perlengkapan Lebaran. Kondisi ini juga berdampak positif bagi pelaku UMKM dan sektor ritel karena perputaran uang meningkat.

 

Frans memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah menjelang Lebaran dapat mendekati 5,7 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan normal yang berkisar 5,1 hingga 5,2 persen.

 

Meski demikian, ia mengingatkan kondisi ekonomi setelah Lebaran masih dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk situasi geopolitik dan kebijakan perdagangan internasional. (ivan)