Pameran Kiswah Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Surabaya Angkat Warisan Keilmuan Islam

pemerintahan | 12 Maret 2026 17:32

Pameran Kiswah Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Surabaya Angkat Warisan Keilmuan Islam
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (dok antara)

SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menilai pameran kiswah milik ulama besar Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian turats atau warisan keilmuan klasik Islam.

 

“Ini bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga warisan keilmuan, akhlak, dan spiritualitas yang diwariskan para ulama besar,” ujar Khofifah di Surabaya, dikutip dari antaranews.com, Kamis, (12/3/2026).

 

Kiswah yang dipamerkan merupakan kain penutup makam Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Baghdad, Irak. Kain tersebut secara berkala diganti setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada ulama sufi yang dikenal luas di dunia Islam itu.

 

Menurut Khofifah, kiswah tersebut memiliki nilai historis tersendiri karena diberikan langsung oleh cicit ke-33 Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Syekh Afeefuddin Al Jailani, saat dirinya berziarah ke makam ulama tersebut di Baghdad.

 

 

Selain kiswah, pameran juga menampilkan dokumentasi perjalanan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dari masa ke masa melalui arsip foto hingga perkembangannya saat ini sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan edukasi masyarakat.

 

Pengunjung juga dapat melihat berbagai manuskrip kitab klasik yang menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam, seperti Kitab Tashrif LughatiKitab AmilKitab Fiqh, serta Kitab Bahjatul Ulum yang selama ini menjadi rujukan dalam tradisi pembelajaran pesantren.

 

Khofifah menambahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus berupaya melestarikan turats melalui penelitian, penelaahan, hingga penerbitan manuskrip karya ulama Nusantara.

 

“Hari ini sudah sekitar 400 manuskrip yang selesai diteliti, sekitar 200 sudah kita digitalisasi, dan 48 di antaranya dirangkum dalam bentuk ikhtisar dalam dua kitab,” katanya.

 

 

Ia juga menyebut dua kitab rangkuman turats tersebut telah diserahkan kepada Grand Imam Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyib, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan khazanah keilmuan ulama Nusantara kepada dunia Islam internasional.

 

Pameran itu juga menampilkan keteladanan sejumlah ulama Jawa Timur yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, di antaranya KH Muhammad Hasyim Asy’ari, HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, KH Abdul Wahhab Hasbullah, KH Raden As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Masykur, Abdurrahman Wahid, serta Syaikhona Muhammad Kholil.

 

Menurut Khofifah, pameran tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah dan tradisi keilmuan ulama yang telah memberi kontribusi besar bagi bangsa.

 

“Masjid harus terus menjadi pusat pembinaan umat, ruang belajar, sekaligus ruang kolaborasi yang ramah bagi generasi muda untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan,” ujar Gubernur Jatim itu.

 

Ia berharap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dapat terus menguatkan perannya sebagai pusat spiritual, edukasi, serta pemberdayaan umat yang mampu merangkul berbagai kalangan, terutama generasi muda. (ivan)