SURABAYA, PustakaJC.co - Memasuki 17 Ramadan yang diperingati sebagai malam Nuzulul Qur’an, Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur mengajak umat Islam menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat untuk kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan ritual.
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Akhmad Sruji Bahtiar, mengatakan peristiwa turunnya Al-Qur’an pertama kali pada malam 17 Ramadan merupakan simbol hadirnya cahaya ilahi yang menerangi kehidupan manusia.
“Peristiwa turunnya Al-Qur’an pada malam 17 Ramadan menjadi simbol bahwa wahyu Ilahi adalah lentera yang menerangi kegelapan jiwa dan masyarakat,” ujar Akhmad Sruji Bahtiar, kepada PustakaJC.co, Jumat, (13/3/2026).
Menurutnya, di tengah tantangan zaman seperti modernitas, polarisasi sosial, hingga degradasi moral, nilai-nilai Al-Qur’an menawarkan solusi yang bersifat menyeluruh bagi kehidupan manusia.
“Al-Qur’an bukan hanya pedoman spiritual, tetapi juga panduan etis dan sosial yang mampu menyatukan keragaman menuju tujuan mulia, yaitu terwujudnya negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” jelasnya.
Bahtiar menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak boleh hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad. Lebih dari itu, momentum ini harus dimaknai sebagai ajakan untuk membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an secara sungguh-sungguh.
“Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi panggilan untuk introspeksi. Sejauh mana kita telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman nyata dalam kehidupan, bukan hanya bacaan ritual,” katanya.
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, lanjut Bahtiar, seorang muslim diharapkan mampu memperbaiki diri sekaligus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Ia juga menilai momentum ini sebagai sarana penyucian jiwa melalui perenungan terhadap ajaran Al-Qur’an.
“Melalui perenungan terhadap Al-Qur’an, manusia diajak kembali mengenal dirinya, menyadari kelemahannya, serta mendekatkan diri kepada Allah agar hidup berjalan sesuai petunjuk-Nya,” ujarnya.
Bukan Sekadar Seremonial
Menanggapi anggapan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an di masyarakat masih bersifat seremonial, Bahtiar menilai kegiatan seperti pengajian, ceramah, hingga khataman Al-Qur’an sejatinya merupakan media dakwah yang penting.
“Alhamdulillah, semangat masyarakat kita sangat tinggi dalam memperingati Nuzulul Qur’an. Memang sering dilakukan dalam bentuk acara seremonial, tetapi esensi yang ingin ditekankan adalah penguatan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an,” katanya.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan sarana untuk mengingatkan umat Islam tentang pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Meski demikian, Bahtiar menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak seharusnya hanya menjadi agenda tahunan yang bersifat simbolik.
“Momentum ini harus menjadi penguat kecintaan, pemahaman, dan pengamalan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
[halaman
Tantangan Era Digital
Bahtiar juga menyoroti tantangan baru di era digital, ketika berbagai tafsir dan konten keagamaan mudah diakses melalui media sosial.
Menurutnya, kemudahan akses tersebut memiliki dua sisi, yakni mempermudah masyarakat belajar agama, tetapi juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman jika sumbernya tidak kredibel.
Untuk itu, Kementerian Agama telah menyiapkan berbagai langkah agar masyarakat memperoleh pemahaman Al-Qur’an yang benar.
Salah satunya melalui penyediaan platform digital resmi, seperti aplikasi Quran Kemenag, yang memuat teks Al-Qur’an, terjemahan resmi, serta tafsir yang disusun para ahli.
“Platform seperti ini diharapkan menjadi rujukan utama bagi masyarakat dalam mempelajari Al-Qur’an,” jelasnya.
Selain itu, Kemenag juga mengerahkan para penyuluh agama untuk mendampingi masyarakat dalam memahami ajaran Islam secara tepat, baik melalui kegiatan langsung di masyarakat maupun melalui konten di media sosial.
“Para penyuluh agama kami bekali pemahaman yang menekankan prinsip moderasi beragama, yaitu memahami Al-Qur’an secara seimbang, tidak ekstrem, serta mempertimbangkan konteks sosial dan nilai kebangsaan,” katanya.
Kemenag Jatim juga menjalin kerja sama dengan pesantren dan majelis taklim untuk memastikan pemahaman Al-Qur’an tetap berada pada jalur yang moderat dan tidak mudah terpengaruh tafsir yang menyimpang.
“Dengan sinergi ini, kami berharap masyarakat bisa semakin mencintai Al-Qur’an, memahami pesannya secara benar, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” tutup Kakanwil Kemenag Jawa Timur ini. (ivan)