SURABAYA, PustakaJC.co – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Timur menyiagakan Satuan Tugas (Satgas) selama 24 jam guna memantau kondisi Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya di kawasan Timur Tengah yang tengah dilanda eskalasi konflik.
Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi risiko sekaligus mengantisipasi lonjakan kepulangan PMI menjelang Idulfitri 1447 H. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (20/3/2026).
Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk menyiapkan skema evakuasi jika kondisi memburuk. Selain itu, BP3MI juga tengah menindaklanjuti laporan warga Situbondo terkait lima PMI di Timur Tengah guna memastikan kondisi dan legalitas penempatan mereka.
“Personel kami siagakan di bandara untuk pendataan sekaligus mengantisipasi kemungkinan evakuasi. Fasilitas seperti tim medis, ambulans, hingga lounge khusus juga telah disiapkan di Bandara Juanda bagi PMI yang tiba,” ujar Gimbar, Kamis, (19/3/2026).
Tak hanya fokus pada situasi konflik, BP3MI juga memproyeksikan peningkatan signifikan arus kepulangan PMI selama periode Lebaran. Pada H-5 hingga H+5, diperkirakan sebanyak 100 hingga 120 PMI akan tiba setiap hari di Jawa Timur.
Gimbar mengimbau para PMI yang pulang cuti agar tetap melapor serta memastikan dokumen penting, termasuk asuransi, dalam kondisi aktif. Hal ini penting untuk menghindari kendala saat kembali bekerja ke luar negeri.
Berdasarkan data, terdapat sekitar 7.000 PMI asal Jawa Timur yang bekerja di kawasan Timur Tengah, dengan mayoritas berada di Arab Saudi.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) turut memperkuat layanan perlindungan dengan membuka Posko Pelayanan Kepulangan PMI di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda.
Kepala UPT Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja (P2TK) Jatim, Astrid, menjelaskan bahwa posko tersebut beroperasi selama 24 jam untuk memberikan pendampingan, mulai dari pendataan hingga penanganan PMI yang mengalami kendala kesehatan maupun masalah lainnya.
“Fasilitas yang disiapkan meliputi takjil gratis, layanan telepon darurat, hingga shelter transit bagi PMI yang datang pada malam hari atau belum dijemput keluarga. Kami juga menyiapkan rujukan medis cepat bagi yang membutuhkan penanganan lanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, momentum Lebaran selalu diiringi peningkatan intensitas kepulangan PMI. Oleh karena itu, pihaknya memastikan setiap pekerja migran yang kembali mendapatkan perlindungan maksimal.
Pada arus mudik tahun sebelumnya, posko ini tercatat melayani ribuan PMI, dengan mayoritas kepulangan berasal dari Hong Kong, Malaysia, dan Singapura. Secara keseluruhan, puluhan ribu PMI mendarat di Bandara Juanda sepanjang tahun.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap para PMI dapat merasakan kehadiran negara, sekaligus memperoleh jaminan keamanan dan kenyamanan selama proses kepulangan hingga kembali ke daerah asal. (ivan)