SIDOARJO, PustakaJC.co – Tragedi ambruknya bangunan tiga lantai Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, yang menewaskan 63 santri, menjadi alarm keras bagi pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa peristiwa tersebut harus menjadi pelajaran serius untuk memperkuat edukasi mitigasi bencana sejak dini, khususnya di sekolah dan pondok pesantren. Dilansar dari jawapos.com, Senin, (23/3/2026).
“Momentum Lebaran ini mobilitas masyarakat tinggi, sehingga potensi risiko harus diantisipasi sejak dini,” ujar Khofifah saat meninjau Posko Siaga SAR Khusus Lebaran 2026 di Pelabuhan Tanjung Perak, Minggu (22/3).
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak cukup bersifat reaktif. Dibutuhkan langkah preventif melalui edukasi yang berkelanjutan agar risiko bencana bisa diminimalisir sejak awal.
Khofifah menilai tragedi di Ponpes Al Khoziny menunjukkan urgensi sistem penanggulangan bencana yang terintegrasi, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan pascabencana.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan pascabencana harus diperkuat secara sistematis dan berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong agar pendidikan kebencanaan dapat dimasukkan secara lebih terstruktur dalam kurikulum nasional, terutama oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Kita perlu mengenalkan kebencanaan kepada anak-anak. Ini penting untuk membangun budaya siaga bencana. Kesiapsiagaan maksimal berarti mampu memitigasi risiko melalui koordinasi yang solid,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Khofifah, berkomitmen hadir di setiap tahapan penanganan bencana, mulai dari mitigasi, tanggap darurat, hingga pemulihan pascakejadian.
“Kami akan terus mendampingi masyarakat, tidak hanya saat tanggap darurat, tetapi juga dalam proses pemulihan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan baik,” pungkasnya. (ivan)