SURABAYA, PustakaJC.co – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan pentingnya mendorong hasil riset agar tidak berhenti pada publikasi, tetapi benar-benar diimplementasikan ke sektor industri.
Menurutnya, selama ini kapasitas riset di Indonesia, khususnya Jawa Timur, terus meningkat. Namun, banyak hasil penelitian yang belum memberi dampak nyata karena tidak diadopsi oleh industri. Dilansir dari antaramews.com, Kamis, (16/4/2026),
“Masih ada kesenjangan antara riset dan industri. Banyak riset berhenti di publikasi, belum masuk ke tahap implementasi,” ujarnya dalam dialog strategis di Surabaya, Rabu, (15/4/2026).
Ia menilai, minimnya keterlibatan industri dalam proses penelitian menjadi salah satu penyebab rendahnya tingkat adopsi hasil riset. Selain itu, belum kuatnya mekanisme hilirisasi juga membuat hasil penelitian sulit diterjemahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Akibatnya, terjadi ketimpangan: kuat dalam menghasilkan riset, tetapi lemah dalam menciptakan dampak ekonomi yang nyata.
Untuk itu, Adik menekankan perlunya kolaborasi yang lebih erat antara akademisi, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah. Ia juga mendorong perubahan paradigma riset di Jawa Timur agar lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Pendekatan lama yang bersifat supply-driven—di mana akademisi menentukan topik riset—dinilai sudah tidak lagi memadai. Ia mengusulkan pergeseran menuju demand-driven research, yakni riset berbasis kebutuhan nyata industri.
Dalam skema ini, pelaku industri diberi peran lebih besar dalam menentukan arah riset, sementara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) berfungsi sebagai penghubung antara dunia kampus dan sektor industri.
“Kadin mengambil posisi sebagai agregator kebutuhan industri sekaligus fasilitator implementasi hasil riset agar bisa diadopsi secara nyata,” tegasnya. (ivan)