Di balik aturan yang ketat, tersimpan tujuan besar: memutus rantai kemiskinan.
Farida menceritakan pengalaman menghadiri wisuda di salah satu politeknik kesehatan. Tiga lulusan terbaik ternyata berasal dari keluarga sederhana—anak tukang bangunan, pedagang, hingga pekerja informal—yang seluruhnya penerima bantuan.
“Sekarang mereka sudah bekerja. Itu yang kita harapkan, ada peningkatan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Program ini memang tidak menjanjikan hasil instan. Namun, dalam jangka panjang, ia diyakini mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Surabaya melalui peningkatan tingkat pendidikan.
“Investasi di SDM itu tidak bisa langsung terlihat. Tapi kalau semakin banyak sarjana, IPM pasti naik,” kata Farida.
Untuk menjangkau lebih banyak penerima, Pemkot tidak berjalan sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi strategi utama, mulai dari camat, lurah, hingga RT/RW.
Mereka melakukan pendekatan langsung ke warga—mendata siapa yang berminat kuliah, siapa yang sudah bekerja, dan siapa yang butuh bantuan.
“Banyak yang tidak tahu atau ragu. Makanya kita jemput bola,” jelas Farida.
Sosialisasi juga dilakukan secara masif, termasuk melalui forum daring yang melibatkan seluruh perangkat wilayah. Respons masyarakat pun luar biasa.
“Setelah saya share informasi, WA saya sampai penuh. Ada yang tanya jam satu malam, jam empat pagi,” ujarnya sambil tersenyum.