SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mewajibkan penambahan porsi telur dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan penyerapan produksi telur sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur, Indyah Aryani, mengatakan harga telur saat ini mengalami penurunan akibat melimpahnya produksi yang tidak diimbangi dengan penyerapan pasar secara optimal. Sebagai provinsi dengan populasi ayam petelur terbesar di Indonesia, Jawa Timur selama ini mengalami surplus produksi telur. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (31/5/2026).
“Harga telur saat ini memang sedang turun karena produksi melimpah, sementara penyerapannya belum optimal,” kata Indyah di Surabaya, Jumat (29/5).
Menurut dia, kondisi tersebut dipicu meningkatnya kapasitas produksi peternak yang sebelumnya mengantisipasi kebutuhan hari raya dan program MBG. Namun, realisasi penyerapan pasar tidak sesuai perkiraan sehingga stok telur menumpuk dan harga turun hingga berada di bawah harga pokok produksi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Jatim bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Kementerian Pertanian, serta pemerintah kabupaten dan kota memperkuat penyerapan telur melalui program MBG dengan mewajibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menambah porsi telur dalam menu makanan.
Selain melalui program MBG, pemerintah juga mengajak masyarakat meningkatkan konsumsi protein hewani, khususnya telur, guna membantu menyerap produksi peternak lokal yang saat ini melimpah.
Indyah menambahkan, peternak saat ini juga menghadapi tekanan tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga jagung sebagai bahan baku utama pakan ternak. Jagung menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen dari total biaya produksi peternakan ayam petelur.
Untuk meringankan beban tersebut, pemerintah menyiapkan program subsidi jagung melalui Bulog dan Bapanas. Melalui skema itu, peternak diharapkan dapat memperoleh jagung dengan harga sekitar Rp5.000 per kilogram melalui koperasi.
Di sisi lain, Pemprov Jatim juga terus mendorong perluasan pasar ekspor produk peternakan ke sejumlah negara, antara lain Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Jepang. Jepang bahkan disebut telah menyelesaikan analisis risiko dan menunjukkan minat terhadap produk telur serta daging ayam beku asal Jawa Timur.
Pemerintah berharap peningkatan penyerapan dalam negeri, dukungan subsidi pakan, serta pembukaan pasar ekspor dapat membantu menstabilkan harga telur, menjaga keberlangsungan usaha peternak, dan memastikan masyarakat memperoleh pangan bergizi dengan harga yang terjangkau. (ivan)