SURABAYA, PustakaJC.co - Saat banyak sektor mulai merasakan dampak melemahnya rupiah, penyeberangan laut Ujung Surabaya-Kamal Madura justru masih bertahan tanpa kenaikan tarif. Di tengah nilai tukar dolar Amerika Serikat yang sempat menembus Rp18.181, layanan transportasi yang menjadi penghubung Surabaya dan Madura itu tetap berjalan normal.
PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya memastikan hingga saat ini belum ada rencana penyesuaian tarif penyeberangan. Meski biaya operasional menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi global, masyarakat masih dapat menikmati layanan dengan tarif yang sama seperti sebelumnya.
Kepala Departemen Bisnis dan Pelayanan ASDP Cabang Surabaya, M Reza Falevi, mengatakan lintasan Ujung-Kamal tetap dipertahankan sebagai alternatif transportasi selain Jembatan Suramadu.
Menurut Reza, operasional kapal penyeberangan saat ini masih ditopang penggunaan bahan bakar solar bersubsidi sehingga belum terdampak langsung oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
"Kapal penyeberangan masih menggunakan BBM solar subsidi. Sampai saat ini belum ada kenaikan tarif penyeberangan apapun. Belum ada dampak efek domino dari kenaikan dolar yang berada di kisaran Rp18.000," ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Ujung Surabaya.
Ia menjelaskan, layanan penyeberangan saat ini dilayani oleh KMP Jokotole yang beroperasi rata-rata 12 perjalanan setiap hari. Kapal mulai berlayar sejak pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Dari sisi Pelabuhan Kamal, keberangkatan dilakukan setiap jam genap mulai pukul 06.00 WIB. Sementara dari Dermaga Ujung Surabaya, kapal berangkat mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.
Rata-rata jumlah penumpang dalam setiap perjalanan berkisar 20 orang. Meski okupansi tergolong terbatas, layanan tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari pelayanan transportasi publik bagi masyarakat Surabaya dan Madura.
Reza menambahkan, apabila terdapat usulan kenaikan tarif, prosesnya harus melalui pembahasan bersama asosiasi pelayaran serta mendapat persetujuan dari Kementerian Perhubungan setelah melalui tahapan sosialisasi kepada masyarakat.
Di sisi lain, ASDP mengakui secara bisnis lintasan Ujung-Kamal belum memberikan keuntungan yang signifikan. Namun keberadaan layanan ini dinilai penting untuk menjaga aksesibilitas dan pilihan transportasi masyarakat.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dapat memberikan dukungan, termasuk dalam bentuk subsidi operasional agar layanan penyeberangan tetap dapat berjalan berkelanjutan.
"Secara bisnis sebenarnya layanan ini tidak memberikan keuntungan dan cenderung merugi. Namun kami tetap mempertahankan aset dan layanan ini agar masyarakat di Kamal maupun Surabaya tetap memiliki alternatif transportasi penyeberangan," tandasnya. (int)