SURABAYA, PustakaJC.co - Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Timur membuka koridor baru Bus Trans Jatim di wilayah Pasuruan menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selain mempertimbangkan kebutuhan transportasi masyarakat, pemerintah juga harus menjaga keberlangsungan angkutan umum yang telah lebih dulu beroperasi di kawasan tersebut.
Saat ini, Dinas Perhubungan Jawa Timur masih melakukan studi mendalam untuk menentukan konsep layanan yang tepat. Pasalnya, jalur Pasuruan telah dilayani oleh angkutan antarkota yang dikenal masyarakat sebagai bus kuning.
Keberadaan bus kuning bahkan disebut mengalami kebangkitan setelah beroperasinya Bus Trans Jatim Koridor VI yang melayani rute Mojokerto-Porong. Banyak penumpang yang melanjutkan perjalanan menuju Pasuruan menggunakan layanan bus tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, menjelaskan bahwa efek keberadaan Trans Jatim justru memberi dampak positif terhadap operasional bus kuning.
Menurutnya, peningkatan jumlah penumpang membuat sejumlah operator bus kuning mulai melakukan peremajaan armada dengan mengganti kendaraan lama menjadi bus baru yang lebih layak.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak ingin kehadiran koridor baru Trans Jatim justru menimbulkan persaingan langsung dengan layanan angkutan yang sudah ada.
Sebagai solusi, kajian yang dilakukan saat ini mengarah pada pengembangan rute yang lebih fokus melayani kawasan industri di Pasuruan yang selama ini menjadi tujuan utama ribuan pekerja setiap hari.
Dishub Jatim mengakui bahwa pembukaan koridor baru tidak bisa dilakukan secara sederhana. Berbagai kepentingan harus diperhatikan, mulai dari keberadaan angkutan kota, angkutan pedesaan, hingga operator transportasi yang sudah beroperasi lebih dahulu.
Untuk itu, komunikasi intensif terus dilakukan dengan berbagai paguyuban angkutan guna mencari solusi yang saling menguntungkan.
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah memanfaatkan jalur alternatif yang tidak sepenuhnya melewati jalan utama. Rute tersebut nantinya diarahkan langsung menuju kawasan industri sehingga dapat memenuhi kebutuhan mobilitas para buruh dan pekerja.
Pemerintah juga mempertimbangkan pembangunan titik transportasi terpadu atau transport hub yang terhubung dengan kawasan industri strategis seperti Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER).
Dengan konsep tersebut, Bus Trans Jatim diharapkan dapat melayani kebutuhan pekerja secara lebih efektif tanpa mengurangi pangsa pasar angkutan umum yang telah eksis sebelumnya.
Selain memberikan kemudahan akses transportasi, skema tersebut juga dinilai mampu mendukung aktivitas ekonomi kawasan industri yang terus berkembang di Pasuruan.
Meski demikian, seluruh rencana masih berada pada tahap studi dan pembahasan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan setiap keputusan nantinya akan mempertimbangkan aspek pelayanan publik, keberlanjutan usaha transportasi lokal, serta kebutuhan mobilitas masyarakat secara menyeluruh.
Jika terealisasi, koridor Pasuruan akan menjadi salah satu pengembangan penting jaringan Bus Trans Jatim yang selama ini terus diperluas untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah di Jawa Timur. (int)