MALANG, PustakaJC.co - Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang menggelar forum strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan Malang Raya Megapolitan dan mempercepat pembangunan Koridor Selatan Jawa Timur menuju 2045. Kegiatan berlangsung di Ruang Arjuno Bakorwil Malang, Rabu, (15/7/2026).
Kegiatan yang terselenggara melalui sinergi Bakorwil Malang, PHRI Malang Raya, dan JMSI Malang Raya itu menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, hingga komunitas untuk menyamakan visi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Kamis, (16/7/2026).
Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, mengatakan pengembangan Malang Raya Megapolitan merupakan strategi membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang terintegrasi dengan kawasan selatan Jawa Timur.
“Malang Raya Megapolitan dan Koridor Selatan 2045 merupakan ikhtiar bersama untuk menghadirkan pembangunan yang lebih merata. Kita ingin menggerakkan potensi wilayah selatan Jawa Timur menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Menurut Asep, tantangan pembangunan saat ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor karena tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi atau daerah saja. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan kawasan.
Ia menambahkan Bakorwil III Malang bersama Bakorwil I Madiun dan Bakorwil V Jember berkomitmen menjadi penggerak pembangunan wilayah selatan Jawa Timur melalui penguatan sinergi antardaerah dan optimalisasi potensi kawasan.
Asep menjelaskan, kawasan selatan Jawa Timur memiliki potensi besar di berbagai sektor. Kabupaten Malang unggul di bidang tebu, kopi, hortikultura, dan pariwisata. Kabupaten Blitar menjadi salah satu sentra peternakan nasional, sementara Pacitan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar.
Selain itu, Lumajang dan Jember dinilai memiliki peluang dalam pengembangan ekonomi hijau, sedangkan Banyuwangi telah berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang terhubung dengan Pulau Bali melalui konektivitas antarpulau.
Potensi lain yang menjadi kekuatan kawasan selatan meliputi sektor kehutanan, perkebunan kopi, kakao, tebu, pertanian hortikultura, perikanan tangkap, ekonomi kreatif, hingga sport ecotourism yang mampu mendorong pertumbuhan UMKM dan sektor jasa pendukung.
Dalam aspek konektivitas, Asep menilai percepatan pembangunan tidak harus selalu melalui pembangunan jalan tol baru. Menurutnya, optimalisasi jaringan infrastruktur yang sudah tersedia menjadi solusi yang lebih realistis dan efisien.
“Solusi yang lebih realistis adalah menghubungkan titik-titik keluar jalan tol dengan jalan nasional, kemudian memperkuat konektivitas menuju Jalur Lintas Selatan yang membentang dari Pacitan hingga Banyuwangi,” katanya.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, di antaranya Novrizald Patterson, Agoes Basoeki, Saiful Arief, Abdillah Ubaidi, Budi Susilo, dan Wahyu Eko Setiawan.
Sebagai tindak lanjut, peserta forum menyepakati pembentukan Konsorsium Akselerasi Kawasan Selatan–Selatan Jawa Timur (AKSES Jatim) sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk mengawal implementasi pembangunan kawasan.
Konsorsium tersebut akan bekerja melalui lima kelompok kerja, yakni bidang pengetahuan dan inovasi, infrastruktur dan tata kelola kawasan, digitalisasi dan teknologi, institusional dan sosial, serta investasi dan pengembangan bisnis.
Asep menegaskan bahwa pembangunan kawasan selatan Jawa Timur harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (ivan)