Lilik menambahkan, upaya penanganan HIV/AIDS harus dilakukan secara berimbang. Di satu sisi, pencegahan perlu diperkuat melalui edukasi, penguatan nilai-nilai keluarga, serta pembinaan karakter generasi muda. Di sisi lain, orang yang hidup dengan HIV harus tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa perlakuan diskriminatif.
Menurutnya, stigma terhadap orang dengan HIV justru dapat menghambat deteksi dini, pemeriksaan, hingga keberhasilan pengobatan. Karena itu, masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa penderita HIV berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan dukungan sosial yang setara.
“Stigma justru dapat menghambat deteksi dini dan pengobatan. Karena itu, masyarakat yang hidup dengan HIV harus mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Ia berharap tingginya kasus HIV/AIDS di Jawa Timur menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta membangun ketahanan keluarga sebagai benteng utama dalam melindungi generasi mendatang. Dengan kolaborasi yang kuat, diharapkan angka penularan HIV di Jawa Timur dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat semakin meningkat. (ivan)