SURABAYA, PustakaJC.co – Anggota DPRD Jawa Timur Lilik Hendarwati menegaskan pentingnya penguatan edukasi dan deteksi dini sebagai langkah utama menekan laju penyebaran HIV/AIDS di Jawa Timur. Menurutnya, penanganan HIV/AIDS harus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya sektor kesehatan.
Lilik mengatakan, meningkatnya kasus HIV di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Ia menilai persoalan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga menyangkut aspek sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (24/7/2026).
“Meningkatnya kasus HIV di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, harus menjadi perhatian serius semua pihak. Ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga persoalan sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga,” ujarnya di Surabaya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Jawa Timur tahun 2025, jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS di provinsi tersebut mencapai 65.238 orang. Sementara itu, sepanjang Januari hingga Maret 2025 tercatat sebanyak 2.599 kasus baru.
Menurut Lilik, tren tersebut menunjukkan perlunya langkah penanganan yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan melibatkan lintas sektor agar penyebaran HIV dapat ditekan secara efektif.
Ia menjelaskan, DPRD Jawa Timur mendorong pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota memperkuat tiga langkah strategis. Pertama, meningkatkan edukasi dan literasi masyarakat mengenai pencegahan HIV, terutama bagi kalangan remaja dan usia produktif yang dinilai rentan terhadap penularan.
Selain itu, pemerintah juga didorong memperluas akses layanan skrining, konseling, serta pengobatan sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan tanpa rasa takut maupun stigma. Langkah berikutnya adalah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga keluarga dalam membangun perilaku hidup sehat dan mencegah perilaku berisiko.
“Data yang dipublikasikan menunjukkan adanya tren peningkatan temuan kasus sehingga diperlukan langkah yang lebih komprehensif dan berkelanjutan. Pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan, tetapi harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Lilik menambahkan, upaya penanganan HIV/AIDS harus dilakukan secara berimbang. Di satu sisi, pencegahan perlu diperkuat melalui edukasi, penguatan nilai-nilai keluarga, serta pembinaan karakter generasi muda. Di sisi lain, orang yang hidup dengan HIV harus tetap memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa perlakuan diskriminatif.
Menurutnya, stigma terhadap orang dengan HIV justru dapat menghambat deteksi dini, pemeriksaan, hingga keberhasilan pengobatan. Karena itu, masyarakat perlu diberikan pemahaman bahwa penderita HIV berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan dukungan sosial yang setara.
“Stigma justru dapat menghambat deteksi dini dan pengobatan. Karena itu, masyarakat yang hidup dengan HIV harus mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Ia berharap tingginya kasus HIV/AIDS di Jawa Timur menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dalam upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta membangun ketahanan keluarga sebagai benteng utama dalam melindungi generasi mendatang. Dengan kolaborasi yang kuat, diharapkan angka penularan HIV di Jawa Timur dapat ditekan dan kualitas hidup masyarakat semakin meningkat. (ivan)