Pemprov Jatim Perkuat Gerakan Kolaboratif Jaga Sungai di Hari Sungai Nasional

pemerintahan | 27 Juli 2026 18:22

Pemprov Jatim Perkuat Gerakan Kolaboratif Jaga Sungai di Hari Sungai Nasional
Provinsi Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, Kepala Dinas PU Sumber Daya Air.

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur memperkuat gerakan kolaboratif menjaga kelestarian sungai dalam momentum peringatan Hari Sungai Nasional 2026. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan pelestarian sungai sebagai investasi bagi keberlanjutan kehidupan dan pembangunan. Senin, (27/7/2026).

 

Khofifah mengatakan, menjaga sungai tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Menurutnya, pelestarian sungai harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga generasi muda.

 

“Menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. Karena itu, upaya pemulihan dan pelestarian sungai harus menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar sungai tetap menjadi sumber kehidupan yang terjaga,” ujarnya.

 

 

Pada peringatan Hari Sungai Nasional yang mengusung tema “Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan”, Khofifah menegaskan sungai memiliki peran penting sebagai penyangga kehidupan. Selain menjadi sumber air baku dan irigasi pertanian, sungai juga menopang keberlanjutan ekosistem, mendukung aktivitas industri, hingga berperan dalam pengendalian banjir.

 

Ia menyebut sejumlah sungai strategis di Jawa Timur yang berkontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat, di antaranya Sungai Brantas beserta Kali Mas dan Kali Porong, Sungai Bengawan Solo beserta Kali Madiun, Sungai Sampean di Situbondo dan Bondowoso, Sungai Bondoyudo dan Bedadung di Lumajang serta Jember, hingga Sungai Rejoso dan Welang di Pasuruan.

 

Namun demikian, menurut Khofifah, berbagai sungai tersebut saat ini menghadapi tantangan berupa pencemaran, penumpukan sampah, kerusakan lingkungan, hingga tekanan akibat aktivitas manusia.

 

“Selama peradaban manusia berlangsung, sungai senantiasa menjadi sumber kehidupan yang menopang ketahanan pangan dan mendukung perekonomian. Tapi seiring berjalannya waktu, kita memiliki tantangan berat seperti kerusakan lingkungan dan penumpukan sampah yang akhirnya mencemari sungai,” ungkapnya.

 

 

“Untuk itu, di peringatan Hari Sungai Nasional ini perlu menjadi momentum bersama untuk berkomitmen dalam menjaga dan memulihkan sungai. Karena kita membutuhkan sungai, tapi seringkali aktivitas manusialah yang malah merusak sumber kehidupan kita ini,” lanjut Khofifah.

 

Sebagai bentuk komitmen, Pemprov Jatim terus menjalankan berbagai program pelestarian sungai secara berkelanjutan. Program tersebut meliputi kegiatan susur sungai, patroli sungai, serta perlindungan mata air untuk menjaga kualitas sumber daya air sekaligus memperkuat ekosistem lingkungan.

 

Khofifah menjelaskan, susur sungai dilakukan untuk mengidentifikasi secara langsung kondisi sungai beserta berbagai persoalan yang terjadi di sepanjang aliran sungai. Sementara patroli sungai menjadi bagian dari pengawasan sekaligus memperkuat koordinasi antar-pemangku kepentingan dalam menangani potensi pencemaran maupun kerusakan lingkungan.

 

“Koordinasi menjadi kunci dalam menangani berbagai persoalan sungai, termasuk pencemaran yang berasal dari aktivitas industri. Karena itu, diperlukan keterlibatan berbagai pihak,” tegasnya.

 

 

Selain menjaga sungai, Pemprov Jatim juga terus mendorong perlindungan mata air sebagai bagian penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.

 

“Perlindungan mata air tidak hanya berkaitan dengan menjaga kualitas air, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber air tersebut,” imbuhnya.

 

Khofifah juga mengapresiasi penyelenggaraan Konferensi Sungai Indonesia (KSI) 2026 di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Forum tersebut mempertemukan sekitar 170 komunitas sungai dengan hampir 500 pegiat lingkungan dari Aceh hingga Papua untuk berbagi praktik baik sekaligus memperkuat komitmen pelestarian sungai.

 

Berbagai kegiatan digelar dalam forum tersebut, mulai dari seminar, diskusi panel, lokakarya pengelolaan sungai berbasis masyarakat, aksi bersih sungai, penanaman pohon di kawasan sempadan sungai, hingga penyusunan rekomendasi bersama.

 

“Puncak kegiatannya diisi dengan penanaman pohon, dialog interaktif untuk menumbuhkan dan meningkatkan awareness, dan pembacaan deklarasi komunitas sungai. Saya sangat mengapresiasi ini karena menjaga sungai merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi dan partisipasi seluruh elemen masyarakat,” katanya.

 

 

 

Menurut Khofifah, komunitas sungai memiliki peran strategis karena hadir langsung di tengah masyarakat sebagai motor penggerak berbagai aksi pelestarian lingkungan.

 

“Jadi mereka-mereka inilah yang mengawal langsung keberlanjutan program pelestarian sungai. Kehadiran mereka khususnya di Jawa Timur saya pikir merupakan wujud nyata dari semangat Hari Sungai Nasional yang kita rayakan ini,” tuturnya.

 

Di akhir, Khofifah berharap Hari Sungai Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi penguat budaya gotong royong dalam menjaga sungai di lingkungan masing-masing.

 

“Selamat Hari Sungai Nasional. Mari kita tanamkan peduli sungai dalam keseharian kita. Sebagai pemerintah, kami akan membuat kebijakan dan peraturan yang sesuai. Di sekolah dan di rumah, guru-guru serta orang tua perlu menanamkan pentingnya kelestarian sungai pada anak. Dalam bermasyarakat, mari saling mengingatkan untuk tidak mencemari sumber kehidupan kita,” pungkasnya. (ivan)