SURABAYA, PustakaJC.co – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan tidak hanya ditujukan untuk membantu masyarakat memiliki hunian yang layak, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi keluarga melalui akses pembiayaan yang lebih mudah.
Saat meninjau penerima manfaat KUR Perumahan bersama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Surabaya, Senin (3/8), Maruarar mengapresiasi BRI sebagai bank dengan penyaluran KUR Perumahan terbesar di Indonesia. Menurutnya, capaian tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah meningkatkan plafon KUR Perumahan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Dilansir dari antaranews.com, Selasa, (4/8/2026).
“Di Kantor Menko, saya dipanggil bersama para menteri lainnya yang memiliki program KUR. Dari seluruh program tersebut, hanya KUR Perumahan yang plafonnya ditingkatkan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Ini tidak mungkin terjadi tanpa kerja keras BRI. Atas nama negara dan pemerintah, saya mengucapkan terima kasih kepada BRI,” ujar Maruarar.
Ia berharap keberhasilan tersebut diikuti dengan pemberian apresiasi kepada tim yang berperan dalam penyaluran KUR Perumahan agar kualitas layanan kepada masyarakat terus meningkat.
“Tolong kepada jajaran direksi, tim KUR yang berprestasi juga diberikan penghargaan. Dengan begitu, KUR Perumahan akan semakin maju dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” katanya.
Maruarar juga menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan kebijakan pinjaman KUR bagi pelaku UMKM di bawah Rp100 juta tanpa persyaratan agunan. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan formal sekaligus mengurangi ketergantungan pada pinjaman berbunga tinggi.
“Pinjaman UMKM di bawah Rp100 juta tidak boleh meminta jaminan. Kalau masih ada yang meminta jaminan, laporkan kepada saya. Ini kebijakan negara agar masyarakat mendapatkan pembiayaan yang mudah, murah, dan cepat. Negara harus hadir melawan praktik rentenir,” tegasnya.
Menurut Maruarar, pembangunan sektor perumahan harus berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi keluarga sehingga masyarakat tidak hanya memiliki rumah yang layak, tetapi juga memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik.
“Jangan hanya berpikir membangun rumah, tetapi juga harus membangun ekonomi keluarga. Kita harus melihat persoalan secara utuh. Jangan bangga jika suatu daerah memiliki banyak penerima bantuan sosial, karena itu berarti masih banyak kemiskinan dan pengangguran. Sebaliknya, ketika penerima bansos berkurang, itulah tanda pemerintah berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Maruarar juga mengajak para penerima manfaat untuk terus mengutamakan pendidikan anak dan semangat bekerja keras sebagai bekal meningkatkan taraf hidup keluarga.
“Saya merasa hidup saya berarti apabila suatu saat lahir anak-anak hebat dari Kota Pahlawan yang mampu membanggakan orang tuanya. Saya merasakan aura positif di Surabaya, karena setiap ibu juga adalah pahlawan bagi anak-anaknya,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Consumer Banking BRI Aris Hartanto menyatakan pihaknya akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah untuk memperluas jangkauan KUR Perumahan.
“Capaian tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap Program KUR Perumahan. BRI akan terus mendukung program-program pemerintah, termasuk Program KUR Perumahan, agar semakin banyak masyarakat memperoleh akses pembiayaan yang mudah, cepat, dan terjangkau,” kata Aris.
Hingga 3 Agustus 2026, BRI telah menyalurkan KUR Perumahan sebesar Rp410 miliar kepada 1.621 debitur. Sementara secara nasional, realisasi penyaluran KUR Perumahan hingga 31 Juli 2026 mencapai Rp11,02 triliun atau sekitar 92 persen dari target tahun 2026 sebesar Rp12 triliun. Capaian tersebut mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap program pembiayaan perumahan yang terus diperkuat pemerintah. (ivan)