KONI Jatim Siapkan Ruang Aman untuk Atlet Hadapi Tekanan Kompetisi

pemerintahan | 12 Agustus 2026 18:33

KONI Jatim Siapkan Ruang Aman untuk Atlet Hadapi Tekanan Kompetisi
Ketua KONI Jawa Timur M. Nabil berbincang dengan sejumlah pihak dalam kegiatan deklarasi dukungan kampanye kesehatan mental bagi anak dan atlet di Surabaya, Rabu, (12/8/2026). (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co - Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur menyiapkan ruang aman bagi atlet untuk membantu menjaga kesehatan mental sekaligus mendukung optimalisasi prestasi. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari perhatian KONI Jatim terhadap tekanan yang dihadapi atlet, khususnya atlet muda.

 

Upaya itu diwujudkan melalui deklarasi kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” yang melibatkan KONI Jatim, Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya, Rabu, (12/8/2026).

 

Ketua KONI Jawa Timur M. Nabil mengatakan kesehatan mental memiliki kaitan erat dengan performa atlet. Menurutnya, atlet tidak hanya menghadapi tekanan dari pertandingan, tetapi juga dari orang tua, pelatih, keluarga, lingkungan sosial, hingga target prestasi. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Rabu, (12/8/2026).

 

“Jangan sampai sebelum tanding sudah tegang, sudah nervous, sudah muncul masalah. Potensi kemenangannya juga pasti tereduksi cukup besar,” kata Nabil.

 

 

 

Karena itu, KONI Jatim berencana menjalin kerja sama dengan RSD Prof. Moeljono untuk memberikan dukungan terhadap kesehatan mental atlet. Salah satu bentuknya berupa penyediaan ruang santai atau ruang cangkrukan yang dapat digunakan atlet untuk beristirahat, berinteraksi, dan mengurangi tekanan.

 

“Kita akan MOU dengan Rumah Sakit Daerah Prof. Moeljono. Segera,” tegasnya.

 

Nabil menambahkan, ruang tersebut nantinya tidak hanya ditujukan bagi atlet laki-laki. Seluruh atlet di bawah naungan KONI Jatim diharapkan dapat memanfaatkannya sebagai tempat untuk melepas tekanan sebelum maupun setelah latihan dan pertandingan.

 

Direktur RSD Prof. Moeljono, Menur, Surabaya, Vitria Dewi, mengatakan kesehatan mental anak dan remaja perlu mendapat perhatian serius. Ia menyebut persoalan mental berdasarkan data yang dimiliki rumah sakit lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa.

 

Menurut Vitria, anak laki-laki perlu diberikan ruang untuk mengungkapkan perasaan dan persoalan yang mereka hadapi. Stigma bahwa laki-laki tidak boleh menangis atau menunjukkan kelemahan justru dapat membuat mereka memendam masalah.

 

“Di situlah sebenarnya dia memendam perasaannya yang harusnya ada suara yang kita semua mendengarkan,” ujarnya.

 

 

Kondisi tersebut juga dinilai relevan dengan kehidupan atlet muda. Selain membawa harapan keluarga, atlet juga membawa nama Jawa Timur hingga Indonesia sehingga memiliki beban prestasi yang cukup besar.

 

Tekanan dapat semakin berat ketika atlet dituntut meraih kemenangan atau medali yang tidak sesuai dengan kemampuan dan kondisi dirinya. Dalam situasi tersebut, atlet bisa merasa kesulitan menyampaikan tekanan yang dialaminya kepada orang tua maupun lingkungan sekitar.

 

Ketua FPPI Surabaya Nenny W. Gunarso mengatakan kampanye “Ayah Bunda, Anak Laki-lakimu Butuh Kamu” lahir dari perhatian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi anak laki-laki, termasuk bullying dan kekerasan.

 

Ia menegaskan bahwa anak laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang, perhatian, serta ruang aman untuk menyampaikan perasaan.

 

“Anak perempuan dan laki-laki itu sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang, sama-sama berhak mendapatkan pelukan hangat. Enggak ada beda di sana,” ujarnya.

 

 

 

Menurut Nenny, kebiasaan memendam emosi karena takut dianggap cengeng atau lemah dapat berdampak terhadap perkembangan anak. Karena itu, komunikasi terbuka antara orang tua dan anak perlu terus dibangun.

 

Melalui kolaborasi KONI Jatim, FPPI Surabaya, dan RSD Prof. Moeljono, dukungan terhadap kesehatan mental diharapkan dapat menjadi bagian dari pembinaan atlet. Upaya tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan pembinaan fisik dan teknis sehingga atlet lebih siap menghadapi tekanan kompetisi dan mampu mencapai prestasi secara optimal. (ivan)