Disbudpar Jatim Dorong TNBTS Bebas Rokok untuk Cegah Kebakaran

pemerintahan | 14 Agustus 2026 07:19

Disbudpar Jatim Dorong TNBTS Bebas Rokok untuk Cegah Kebakaran
Suasana kawasan Gunung Bromo yang terdampak kebakaran. (dok kompas)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong penerapan kawasan bebas rokok di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sebagai langkah pencegahan kebakaran yang terus berulang. Kebijakan tersebut dinilai penting karena sebagian besar kebakaran di kawasan Bromo dipicu aktivitas manusia.

 

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur, Evy Afianasari, mengatakan pihaknya akan menyarankan kepada Balai Besar TNBTS agar pengunjung tidak membawa rokok maupun benda yang berpotensi memicu api ketika memasuki kawasan wisata. Dilansir dari kompas.com, Jumat, (14/8/2026).

 

“Yang jelas mungkin nanti kita menyarankan dari TNBTS bahwa kalau untuk memasuki area kawasan tersebut dilarang membawa rokok,” kata Evy, Jumat, (14/8/2026).

 

 

Menurut Evy, kebijakan serupa sebenarnya telah diterapkan di sejumlah kawasan wisata alam lainnya. Pengelola melarang pengunjung membawa rokok, termasuk rokok elektrik atau vape, serta membatasi aktivitas yang dapat memicu api seperti menyalakan api unggun.

 

“Kawasan alam yang punya swasta dalam tanda kutip, itu rata-rata mereka sudah tidak memperbolehkan pengunjungnya membawa rokok, baik itu vape ataupun rokok tembakau biasa,” ujarnya.

 

Kebakaran di kawasan TNBTS kembali terjadi sejak titik api muncul pada Senin (3/8/2026). Hingga kini, luas kawasan hutan dan lahan yang terdampak telah mencapai sekitar 1.069 hektare.

 

 

Peristiwa serupa juga pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, kebakaran di Blok Plengongan hingga B29 menghanguskan sekitar 65 hektare lahan.

 

Setahun kemudian, kebakaran kembali terjadi di kawasan Resort PTN Coban Trisula dengan luas terdampak mencapai 100 hektare.

 

Kebakaran besar kembali terjadi pada 2023 akibat penggunaan flare dalam kegiatan foto prewedding di kawasan Bukit Teletubbies. Peristiwa tersebut menyebabkan sekitar 504 hektare kawasan Bromo terbakar.

 

Evy menilai catatan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan langkah pencegahan dan penanganan sejak dini. Selain aktivitas manusia, kondisi alam yang kering juga dapat memperbesar risiko kebakaran.

 

 

 

Selain penanganan kebakaran, pemerintah juga mulai memperhatikan proses pemulihan kawasan yang terdampak. Evy mengatakan pemulihan vegetasi di kawasan TNBTS tidak dapat dilakukan secara cepat karena kondisi medan yang terdiri dari bukit dan lereng.

 

“Yang jelas sih seperti kasus tahun lalu, butuh waktu cukup lama untuk menghijaukan kembali. Mungkin nanti akan ada program khusus yang berupa apa pemulihan lahan tersebut atau bagaimana,” jelasnya.

 

Namun, program pemulihan belum dapat dipastikan karena proses pemadaman masih berlangsung. Pemerintah akan melihat kondisi seluruh titik terdampak setelah situasi benar-benar kondusif.

 

Untuk sementara, seluruh pintu masuk kawasan wisata TNBTS masih ditutup sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran dan menjaga keselamatan pengunjung. (ivan)