PASTI Berakhir, Pemprov Jatim Pastikan Praktik Baik Penanganan Stunting Berlanjut

pemerintahan | 27 Agustus 2026 18:35

PASTI Berakhir, Pemprov Jatim Pastikan Praktik Baik Penanganan Stunting Berlanjut
Perwakilan BKKBN Jawa Timur bersama Yayasan Cipta dan sejumlah pemangku kepentingan mengikuti Pertemuan Diseminasi Hasil Akhir Program PASTI di Kantor BKKBN Jatim, Kamis, (27/8/2026). (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI) memasuki tahap akhir implementasi di Jawa Timur. Berakhirnya masa pendampingan program kemitraan periode 2023–2026 ini bukan menjadi akhir, melainkan momentum untuk memperkuat dan mereplikasi praktik baik penanganan stunting di daerah.

 

Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Diseminasi Hasil Akhir Program PASTI yang diselenggarakan Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Provinsi Jawa Timur bersama Yayasan Cipta di Ruang LIBI 1 Kantor BKKBN Jatim, Kamis, (27/8/2026).

 

Program Lead PASTI Jatim dari Yayasan Cipta, Christine Lora Egaratri, memaparkan sejumlah capaian utama program, salah satunya melalui intervensi Pos Gizi DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting). Dilansir dari kominfojatim.go.id, Kamis, (27/8/2026).

 

Berdasarkan evaluasi akhir di wilayah dampingan Kabupaten Malang dan Ngawi, intervensi tersebut berhasil membantu 90 persen atau 1.027 dari 1.146 anak berisiko stunting hingga status gizinya menjadi normal berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Umur (BB/U).

 

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari tingginya partisipasi orang tua dan pengasuh baduta yang mencapai 98 persen dalam memahami materi Komunikasi Perubahan Perilaku,” jelas Lora.

 

 

Ia mengatakan intervensi Pos Gizi DASHAT juga mendorong peningkatan proporsi baduta berstatus gizi normal dari 88,70 persen pada 2025 menjadi 90,60 persen pada 2026.

 

Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan Bappeda Jatim, Dinas Kesehatan Jatim, Dinas DP3AK Jatim, Dinas PMD Jatim, Dinas Kominfo Jatim, serta TP PKK Provinsi Jawa Timur.

 

Secara kumulatif, Program PASTI telah menjangkau 1.155 baduta, 2.088 remaja, serta 5.948 pengasuh dan keluarga. Selain itu, sebanyak 1.800 remaja terlibat dalam kampanye perubahan perilaku.

 

Peran aktif Duta GenRe Desa juga turut mendorong integrasi aspirasi kesehatan remaja ke dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes).

 

Nasional Program Manager PASTI, Hotmianida Panjaitan, menilai kolaborasi antarlembaga menjadi salah satu kunci keberhasilan intervensi stunting selama hampir empat tahun pelaksanaan program sejak 2023.

 

“Selama perjalanan Program PASTI ini kami belajar bahwa tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendiri. Keberhasilan ini berkat kolaborasi antarlembaga, baik pemerintah, tenaga kesehatan, kader TPK, pemerintah desa, hingga masyarakat yang saling melengkapi,” ujar Hotmianida.

 

 

Ia juga mengapresiasi langkah BKKBN Jatim yang telah mengadopsi pendekatan Pos Gizi DASHAT ke 11 kabupaten/kota di Jawa Timur.

 

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari capaian selama masa pelaksanaan, tetapi juga dari keberlanjutan praktik baik setelah program berakhir.

 

“Kami berharap berbagai praktik baik yang telah lahir termasuk penguatan TPK, edukasi keluarga, pemanfaatan data, serta kolaborasi intersektor dapat terus menjadi bagian dari upaya bersama,” tambahnya.

 

Rangkaian capaian dan rekam jejak pendampingan Program PASTI kemudian diserahterimakan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui penyerahan dokumen, panduan, dan media legacy Program PASTI.

 

Prosesi tersebut menjadi bagian dari alih pengetahuan untuk menjaga keberlanjutan dampak program di lapangan.

 

 

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, menegaskan penyerahan dokumen legacy merupakan momentum penting dalam proses transfer pengetahuan.

 

“Saya memandang proses serah terima ini bukan sekadar kegiatan administratif, tetapi bagian dari proses alih pengetahuan. Apa yang telah dilakukan selama pendampingan Program PASTI tidak boleh berhenti ketika program selesai,” tegas Shodiqin.

 

Ia menambahkan, BKKBN Jatim berkomitmen menjaga keberlanjutan program melalui alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) serta mendorong organisasi perangkat daerah lainnya untuk mengintegrasikan pembelajaran berbasis data ke dalam kebijakan daerah.

 

Shodiqin juga mengapresiasi seluruh mitra pendanaan dan pelaksana, yakni Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Wahana Visi Indonesia, serta Yayasan Cipta atas kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan sejak 2023. (ivan)