Khofifah Ajak Perkuat Mata Rantai Keilmuan Ulama Lewat Turots

pemerintahan | 27 Agustus 2026 18:41

Khofifah Ajak Perkuat Mata Rantai Keilmuan Ulama Lewat Turots
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengamati karya ulama dalam pameran turots dan klinik turots di Jombang, jawa Timur. (dok antara)

JOMBANG, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat memperkuat mata rantai keilmuan ulama Nusantara melalui pelestarian dan pengembangan khazanah turots. Hal tersebut disampaikan saat membuka pameran dan klinik turots di Jombang, Kamis, (27/8/2026).

 

Khofifah mengatakan turots bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan intelektual ulama Nusantara yang perlu terus dihidupkan, dikaji, dan dikembangkan agar dapat menjadi referensi bagi masyarakat dunia. Dilansir dari antaranews.com, Kamis, (27/8/2026).

 

“Turots bukan sekadar peninggalan, tetapi warisan mata rantai keilmuan ulama Nusantara yang harus dihidupkan, dikaji dan dikembangkan supaya menjadi referensi bagi dunia,” katanya.

 

 

 

Menurut Khofifah, khazanah pemikiran ulama Nusantara memiliki kedalaman keilmuan yang luar biasa dan masih relevan untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer. Karena itu, penggalian manuskrip dan karya ulama Nusantara perlu dilakukan secara serius melalui preservasi, digitalisasi, kajian, hingga pengembangan jejaring kemitraan internasional.

 

Pameran turots tersebut menampilkan berbagai naskah kuno ulama dari sejumlah pesantren di Nusantara. Selain itu, terdapat katalog naskah pesantren, sejarah NU dari masa ke masa, galeri ke-NU-an, jejak aksara di Nusantara, serta karya ulama dan masyayikh PBNU.

 

Sementara itu, klinik turots menghadirkan layanan konsultasi mengenai naskah sekaligus memperlihatkan proses digitalisasi dan restorasi manuskrip. Khofifah berkesempatan melihat langsung proses tersebut.

 

Ia mengatakan perkembangan teknologi preservasi membuka peluang besar untuk menyelamatkan manuskrip yang telah lapuk. Melalui teknologi tersebut, tulisan yang sebelumnya tidak terlihat dapat kembali terbaca sehingga kandungan keilmuan di dalamnya dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

 

Upaya tersebut kemudian dikembangkan melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh. Khofifah menyebut pameran karya ulama Nusantara di Arab Saudi mendapat respons positif dari diplomat, pemerintah, dan kalangan akademisi setempat.

 

“Mereka kemudian mengenali pikiran dan kedalaman keilmuan ulama-ulama kita. Oleh karenanya, kita harus menguatkan format kemitraan kita tidak hanya dengan ulama yang punya karya-karya di Jawa Timur tapi ulama Nusantara,” ujarnya.

 

Khofifah menilai penguatan khazanah turots sangat relevan dengan pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU di Jombang. Menurutnya, penerbitan, digitalisasi, preservasi, dan kajian karya ulama Nusantara dapat memperkaya referensi keilmuan Islam sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam percaturan intelektual dunia.

 

“Saya rasa ini seiring Muktamar ke-35 NU yang diikuti penggalian keilmuan para ulama kita lewat diterbitkannya turots ini,” katanya.

 

Pada kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan dua kompilasi karya ulama Jawa Timur, yakni Majm”ah al-Muannaft as-Smiyah li Ba” Ulam’ Jawa asy-Syarqiyyah dan Majma al-Anwr min Ras’il al-Akhyr. Kedua karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Nahdlatut Turots.

 

Khofifah juga menyampaikan bahwa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah memiliki program studi tingkat magister yang berkaitan dengan turots. Kehadiran program tersebut dinilai menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem akademik untuk mengkaji, merawat, dan mengembangkan warisan intelektual ulama Nusantara.

 

 

 

Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU K.H. Afifuddin Muhajir mengatakan kebangkitan ulama tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan turots sebagai warisan keilmuan yang diwariskan dari generasi terdahulu kepada generasi penerus.

 

“Tidak akan ada kebangkitan ulama kalau tidak ada kebangkitan turots,” kata Afifuddin.

 

Menurut dia, kitab-kitab turots tidak hanya memuat ilmu agama, tetapi juga menjadi sumber dan perangkat keilmuan untuk memahami agama secara mendalam.

 

Ia menambahkan pesantren memiliki peran strategis dalam memadukan tradisi kesalafan dengan kemodernan. Hal tersebut tidak dapat diwujudkan tanpa memberikan perhatian terhadap kitab-kitab turots sebagai fondasi tradisi keilmuan pesantren.

 

“Pesantren ini menjadi memadukan kesalafan dan kemodernan. Unsur itu tidak mungkin terwujud tanpa memperhatikan kitab turots ini,” ujarnya.

 

Afifuddin berharap pengembangan khazanah keilmuan ulama terdahulu dapat terus dilestarikan dengan melibatkan seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap turots. (ivan)