Jatim Perkuat 54 Kecamatan untuk Hadapi Ancaman dan Risiko Bencana

pemerintahan | 28 Agustus 2026 18:42

Jatim Perkuat 54 Kecamatan untuk Hadapi Ancaman dan Risiko Bencana
Pembekalan Teknis Gerakan Kecamatan Tangguh Bencana (KENCANA) yang diikuti 54 kecamatan di Jawa Timur untuk memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi menghadapi risiko bencana. (dok kominfo)

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah terus memperkuat kapasitas kecamatan sebagai garda depan dalam menghadapi ancaman dan risiko bencana di Jawa Timur.

 

Penguatan tersebut dilakukan melalui Gerakan Kecamatan Tangguh Bencana (KENCANA), yang melibatkan 54 kecamatan dan BPBD kabupaten/kota dari lima wilayah dampingan, yakni Lumajang, Malang, Pacitan, Pasuruan, dan Sampang. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (28/8/2026).

 

Kegiatan Pembekalan Teknis Optimalisasi Peran dan Fungsi Gerakan Kecamatan Tangguh Bencana (KENCANA) digelar Kementerian Dalam Negeri bersama BPBD Provinsi Jawa Timur dengan dukungan Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia–Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana) pada 27–28 Agustus 2026 di Surabaya.

 

Penguatan peran kecamatan dinilai penting karena Jawa Timur memiliki 38 kabupaten/kota dan 666 kecamatan. Kecamatan menjadi penghubung strategis antara pemerintah daerah, desa, dan masyarakat dalam memastikan informasi, koordinasi, serta layanan kebencanaan dapat diterima warga secara cepat dan efektif.

 

 

Kasubdit Standardisasi Tata Operasional dan SDM Penanggulangan Bencana Kemendagri, Theofridus U.A. Bere, mengatakan KENCANA bukan sekadar program kebencanaan, tetapi menjadi pedoman koordinasi strategis untuk membangun ketangguhan wilayah.

 

“Kecamatan berperan mengidentifikasi potensi ancaman, kerentanan, dan kebutuhan desa, sekaligus mengorganisasi dukungan lintas pihak,” ujarnya.

 

Analis Kebencanaan BNPB, Hadi Sutrisno, menekankan pentingnya memasukkan upaya membangun ketangguhan bencana ke dalam perencanaan desa dan kelurahan.

 

“Pengurangan risiko bencana adalah investasi. Kapasitas yang dibangun akan menjadi modal penting ketika bencana datang,” tegasnya.

 

 

Implementasi KENCANA di Jawa Timur sebelumnya telah berjalan, antara lain di Kecamatan Rejoso dan Winongan, Kabupaten Pasuruan, sejak 2023.

 

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kecamatan dapat berperan dalam mengidentifikasi risiko di tingkat desa, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta mendukung penyelenggaraan layanan kebencanaan secara lebih efektif.

 

Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menilai kecamatan memiliki posisi strategis untuk mempercepat koordinasi sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

 

“Harapannya para camat dapat mengkoordinasikan wilayah desa terkait potensi ancaman bencana,” katanya.

 

Dalam pembekalan teknis tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai konsep KENCANA, tetapi juga melakukan praktik implementasi melalui sistem e-KENCANA, kajian risiko tingkat kecamatan, serta penyusunan Rencana Kolaboratif KENCANA.

 

Program tersebut sekaligus mendukung pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub-Urusan Bencana dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun Desa Tangguh Bencana (DESTANA).

 

 

Penguatan ini juga diarahkan agar desa mampu menjadi lebih mandiri dan inklusif, termasuk dalam memberikan perlindungan kepada kelompok rentan saat menghadapi bencana.

 

Melalui Gerakan KENCANA, kecamatan didorong tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menjadi garda depan ketangguhan masyarakat di tingkat lokal.

 

Penguatan kesiapsiagaan, koordinasi, dan kapasitas secara berkelanjutan di tingkat kecamatan diharapkan mampu meningkatkan perlindungan terhadap kehidupan dan mata pencaharian masyarakat, sekaligus mempercepat proses pemulihan ketika bencana terjadi. (ivan)