Pemkot Surabaya Bekali Petugas Call Center 112 Kemampuan Penanganan Krisis Psikologis

pemerintahan | 16 September 2026 07:34

Pemkot Surabaya Bekali Petugas Call Center 112 Kemampuan Penanganan Krisis Psikologis
Suasana kerja Call Center 112 Pemkot Surabaya. (dok antara)

 

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah Kota Surabaya memperkuat respons layanan darurat Command Center 112 dengan membekali para petugas penerima panggilan (call taker) kemampuan penanganan krisis psikologis. Langkah ini diambil agar setiap laporan kedaruratan warga dapat ditangani secara lebih terukur dan menyeluruh sejak detik pertama.

 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Surabaya, Linda Novanti, menyatakan bahwa efektivitas Command Center 112 tidak lagi hanya mengandalkan kecepatan durasi respons, melainkan juga akurasi asesmen awal di meja penerima telepon. Dilansir dari antaranews.com, (16/9/2026).

 

" Call taker memiliki peran penting sejak laporan pertama kali diterima. Mereka tidak hanya mencatat informasi dari warga, tetapi juga melakukan asesmen awal untuk mengetahui kondisi dan menentukan langkah penanganan selanjutnya," ujar Linda di Surabaya, Selasa, (15/9/2026).

 

 

Untuk mendukung fungsi tersebut, para petugas kini telah dibekali pelatihan Psychological First Aid(PFA) atau pertolongan pertama pada psikologis. Melalui pelatihan ini, petugas diharapkan mampu menenangkan pelapor yang panik, menggali rincian kondisi korban, serta memastikan titik lokasi kejadian secara akurat sebelum mendistribusikan informasi ke pos teknis terdekat.

 

Dukungan Tenaga Medis dan Psikolog 24 Jam

 

Selain peningkatan kapasitas call taker, Pemkot Surabaya juga menempatkan tenaga medis dan profesional psikologi langsung di ruang operasional Command Center 112.

Kehadiran tenaga kesehatan berfungsi memberikan panduan tindakan darurat secara jarak jauh kepada pelapor sembari menunggu armada medis tiba di lokasi. Sementara itu, pendampingan krisis mental diperkuat oleh psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya.

 

"Ada satu orang dari DP3APPKB yang merupakan seorang psikolog. Mereka standby dalam tiga shift," kata Linda menambahkan.

Integrasi layanan medis dan psikologis ini menjadi jawaban atas dinamika laporan darurat di lapangan yang kerap membutuhkan intervensi non-fisik. Dengan komunikasi yang tepat dan tenang, penanganan awal terhadap warga yang mengalami tekanan psikologis berat dapat dilakukan secara lebih efektif sebelum penanganan lanjutan tiba. (ivan)